Tiga Srikandi Kota Malang Raih Juara

MALANG - Prestasi membanggakan kembali diraih tenaga pendidik dan kependidikan di Kota Malang. Kali ini, tiga orang tenaga pendidik sukses meraih juara pada lomba guru prestasi tingkat nasional, yang digelar tanggal 12 sampai 19 Agustus 2016. Ketiga nama tersebut adalah Kepala SMKN 13, Dr. Husnul Chotimah, M.Pd, juara dua kepala sekolah nasional, Pengawas SD Dr. Ida Yuastutik, M.Pd menyabet gelar juara dua tingkat nasional dan pustakawan SMAN 5 Kota Malang Armia Hikmaturrachmi, A.Md. yang menyabet sebagai juara satu. Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Kota Malang, Dra. Zubaidah, MM mengatakan, perjuangan para srikandi Kota Malang tersebut tidak mudah. Sebelum sampai di jenjang nasional, mereka sebelumnya telah melewati beberapa tahapan, mulai dari kompetisi antar kota, berlanjut ke tingkat provinsi, hingga berujung pada kompetisi tingkat nasional. Zubaidah merasa kagum dan bangga atas upaya para tenaga pendidik tersebut, terutama saat proses wawancara berlangsung. “Karena yang terberat adalah proses wawancara, disitu guru dan kepala sekolah dituntut kritis menanggapi pernyataan juri,” ujarnya saat berpidato pada pembukaan SMK National Multimedia Center (NMC), Sabtu (20/8). Meski demikian, Zubaidah mengaku tak ingin berpuas diri. Ada beberapa komponen yang tetap akan menjadi evaluasi, untuk selanjutnya dapat diperbaiki agar pelaksanaan guru prestasi tahun depan lebih baik lagi. “Pembinaan kedepan akan mencari pola terbaik, yang sudah berhasil akan digunakan sebagai narasumber untuk guru prestasi tahun mendatang,” ujarnya. Beratnya pertempuran, dirasakan betul oleh Husnul. Bahkan, ia mengungkapkan penelitian yang dilakukan menyerupai disertasi. Rancangan karya tulis ilmiah pun lebih berat saat kompetisi guru prestasi tingkat provinsi. “Standard penulisan lebih tinggi daripada provinsi, karya tulisnya sudah seperti disertasi. Harus ada pustaka ilmiahnya, jurnal, kerangka berpikir dan harus dipublikasikan,” bebernya kepada Malang Post. Serupa dengan pernyataan Zubaidah, Husnul juga merasa bagian tersulit adalah saat proses wawancara. Ia merasa, pengujinya adalah juri yang profesional dan objektif. Selain itu, pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan bersayap dan memiliki bobot tinggi. “Artinya tidak berhenti dan puas sampai di situ saja. Pertanyaannya bersayap, melebar kemana-mana, mulai tanya soal karya ilmiah kita, terus merembet ke bagaimana meningkatkan sdm internal sekolah, imbauan apa kepada pemerintah soal pendidikan kita, ” ujarnya panjang lebar. Husnul membeberkan, juri ajang guru prestasi tidak berkenan apabila para peserta lomba mempresentasikan keadaan fisik sekolah. Justru, juri akan memberi nilai lebih apabila kepala sekolah maupun guru bisa menggambarkan mutu pendidikan dan juga kualitas sumber daya manusia (SDM) internal sekolah dengan baik. “Mereka tidak suka kalau ada yang presentasi, dulu sebelum masuk sekolah ini kamar mandinya satu, setelah masuk jadi sepuluh. Mereka lebih senang ketika ada yang menjelaskan, guru di sekolah ini sudah bisa membuat jurnal penelitian, atau siswa sudah mengikuti kompetisi ke ajang internasional,” kenangnya. (nia/ary)