Transparan Anggaran Operasional Sekolah

MALANG - Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Kota Malang memperingatkan kepada seluruh sekolah swasta, untuk terbuka terhadap administrasi, terutama soal anggaran operasional sekolah. Hal itu ia sampaikan saat membuka sekaligus meresmikan gedung baru SMK Nasional Media Centre (NMC), kemarin. Zubaidah menegaskan, bagi sekolah swasta, administrasi harus mulai ditertibkan. Hal ini akan menjadi modal mengikuti kegiatan atau kompetisi lain. Sebab, pertimbangan dari perlombaan salah satunya adalah upaya sekolah dalam keterbukaan informasi. “Kendala yang sering dialami sekolah swasta adalah masalah keuangan. Ini tabu, tetapi kalau tidak disampaikan akan menjadi masalah besar. Sebab itu pentingnya keterbukaan informasi,” tukasnya kepada Malang Post. Apalagi, Kota Malang telah mendapat penghargaan nilai integritas dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Keterbukaan informasi dalam bentuk apapun menjadi penting, untuk mendukung bertahannya predikat tersebut. Di lain sisi, Zubaidah mengaku takjub dengan pendirian dan bangunan baru dari SMK NMC. Meski tergolong sekolah baru, karena baru berdiri selama dua tahun, namun sarana prasarana sekolah berbasis multimedia dan broadcasting itu sudah tergolong memenuhi persyaratan. “Bangunannya sudah gagah, sudah bagus. Laboratorium sudah lengkap. Tinggal meningkatkan mutu pendidikan saja,” ucapnya. Wanita ini berharap lebih atas lahirnya lembaga pendidikan baru di Kota Malang. Dengan demikian, mimpi semakin meningkatnya prestasi dari dunia pendidikan akan terus bertambah. Selain itu, dengan bertambahnya sekolah baru, Zubaidah berharap masyarakat Kota Malang mulai menyadari bahwa pendidikan tidak melulu sekolah negeri. “Terbukti, sekolah swasta juga tidak kalah bagusnya,” urainya kemudian. Sebagai sekolah baru, SMK NMC ditargetkan dapat mengirim delegasinya saat ajang Lomba Kompetensi Nasional (LKS) tingkat SMK. Kepala SMK NMC, Gunawan Wisnuwardhana, S.Pd, M.Si menyatakan kesiapan sekolahnya sesuai dengan atensi dari Zubaidah. “Kami optimis tahun depan bisa ikut LKS, karena praktik di sekolah kami 70 persen dan teori 30 persen,“ ucapnya. Gunawan mengatakan demikian, karena sekolah kejuruan perlu belajar lebih banyak hal praktis tanpa mengesampingkan teori. Sebab, mereka dituntut untuk bisa bersaing dalam dunia kerja. “Banyak praktik dengan laboratorium. Kami dorong kelengkapan laboratorium supaya bisa menjadi lahan praktikum mereka, yang penting bisa diaplikasikan sesuai lapangan pekerjaan,” pungkas dia. (nia/mar)