Trauma, Orang Tua Pilih Sekolah Lain


SANTAI: Suasana Front Office SMK Wiyata Husada diisi oleh beberapa pegawai muda. (Ft: IRA RAVIKA/MALANG POST)


BATU – Kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) yang digelar SMK Wiyata Husada yang tidak manusiawi masih mengundang kemarahan orang tua siswa baru. Tidak sedikit dari mereka memindahkan anaknya dari sekolah berlokasi Jalan Kenanga Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu ini.
Orang tua akan hadir dalam pertemuan dengan pihak sekolah yang rencananya digelar Senin (18/7) hari ini. Bahkan para orang tua siap meminta uang sekolah untuk dikembalikan.
Salah satu sumber Malang Post mengatakan, kegiatan PLS yang digelar SMK Wiyata Husada tidak bisa dimaafkan, lantaran memicu trauma para siswa baru. ”Anak saya trauma, dan sampai saat ini tidak mau makan. Kalau malam kerap mengigau, kami kawatir jika terus melanjutkan di sekolah tersebut dampaknya akan lebih buruk,’’ katanya.
Wanita yang tidak ingin namanya dikorankan ini menyebutkan jika saat mendapat telepon dari anaknya, awalnya dia biasa saja, dan tidak menanggapi serius. Namun setelah mendengarkan cerita sang anak, dia pun diam. Terlebih saat cross check kepada beberapa orang tua siswa dan mendengar cerita yang sama, dia pun memilih untuk tidak menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut.
”Suami juga setuju kalau anak kami pindah. Dan kami juga meminta uang yang sudah dibayarkan itu dikembalikan,’’ katanya.
Menurutnya, SMK Wiyata Husada tidak hanya melakukan tindakkan yang tidak manusiawi kepada siswa baru. Tapi juga membohongi orang tua siswa terkait dengan fasilitas asrama. Menurut dia saat itu pihak sekolah mengatakan asrama yang ditempati siswa memiliki berbagai fasilitas bagus. Tapi kenyataannya, saat orang tua menjemput anak-anak mereka Kamis (14/7) malam lalu diketahui jika para siswa ini tidur lantai, dengan alas kasur busa tipis.
Soal makan, sebelumnya pihak sekolah mengatakan jika para siswa yang tinggal di asrama mendapat jatah makan tiga kali sehari. Tapi faktanya itu tidak terealiasi. ”Pernah suatu hari anak saya hanya mendapat jatah makan satu kali saja. Dan pernah juga pihak sekolah memberi sayur sop basi,’’ tambah sumber tersebut.
Lantaran itulah, tidak ingin perkembangan sang anak memburuk, sumber ini memilih tidak menyekolahkan buah hatinya di SMK Wiyata Husada.
Sementara itu sumber lain menyebutkan, jika pihaknya tetap menyekolahkan sang buah hati mereka dengan berbagai catatan. Kepada Malang Post dia mengatakan pihaknya tetap menyekolahkan anaknya di SMK Wiyata Husada jika fasilitas di sekolah tersebut diperbaiki, dan PLS digelar sesuai dengan peraturan. ”Besok ini akan dibahas lebih lanjut, kami ada pertemuan dengan pihak sekolah,’’ katanya, sembari menyebutkan pertemuan dengan pihak sekolah digelar di SMK Wiyata Husada pukul 08.00.
Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Dra Mistin mengatakan sampai dengan saat ini masih melakukan penyelidikan. Rencananya hari ini pihaknya akan memanggil Kepala Sekolah dan Ketua Yayasan SMK Wiyata Husada. ”Kita minta keterangan Kepala Sekolah untuk kejadian yang sesungguhnya. Betul tidak adanya kejadian itu,’’ katanya. Jika ada unsur kesengajaan, dinas pun siap memberikan sanksi kepada pihak sekolah. (ira/feb)