UB Akan Bangun Museum Batu Mulia


ilustrasi Universitas Brawijaya


MALANG - Keberadaan batu mulia di Indonesia masih dipandang sebelah mata. Masyarakat belum sadar pentingnya batu mulia. Padahal di negara lain seperti di Inggris, Jerman, dan negara maju lainnya, batu mulia banyak diteliti, dibukukan, dan dibuatkan museum. Demikian disampaikan Ketua Pusat Studi Peradaban Universitas Brawijaya (UB) Dr. Moh. Fadli, SH., M.Hum dirilis Humas UB.
Fadli memaparkan, kekayaan alam Indonesia sungguh luar biasa. Ia bersama tim Pusat Studi Peradaban UB telah meneliti dari Banyuwangi sampai Cikotok. Dimana daerah penghasil tambang tersebut banyak dimanfaatkan oleh perusahaan asing.
"Batu-batuan yang dianggap tidak bernilai di negeri ini disertifikasi di negeri orang dan harganya melonjak beratus kali lipat. Apabila kita dapat memaksimalkan potensi  dan mengangkat citra batu mulia sebagai strategi mempertahankan kembali kedaulatan sumber daya alam Indonesia,   saya optimis ke depan akan membanggakan negeri ini," kata Fadli.
Melihat fenomena ini, Rektor UB Prof. Dr. Mohammad Bisri, MS berniat mendirikan Museum Batu Mulia Nusantara yang akan dikelola Pusat Studi Peradaban. Selain itu juga akan dibangun Laboratorium Mineralogi dan Metalurgi yang akan dikelola Fakultas MIPA, serta Lembaga Lisensi Batu Mulia UB. Laboratorium ini akan didukung dengan peralatan canggih untuk keperluan riset batu mulia.
"UB berkomitmen untuk terus mengembangkan riset mineralogi dan metalurgi karena merupakan aset bangsa. Kedepan akan dibuka program studi Mineralogi dan Metalurgi, namun akan diawali dengan Program Minat. Hal ini untuk meningkatkan peran akademisi dalam bidang mineralogi dan metalurgi, karena akademisi yang memelopori riset batu mulia masih sangat sedikit," jelas rektor. (oci)