UB Usulkan Vokasi Jadi Fakultas

MALANG – Program Studi Vokasi Universitas Brawijaya (UB) hingga kini masih belum jelas statusnya. Namun, menurut Rektor UB, Prof. Dr. Ir. M. Bisri, MS., pihaknya telah mengajukan Prodi Vokasi UB menjadi Fakultas Vokasi. Bisri menegaskan hal itu kepada Malang Post, kemarin, bahwa status Vokasi UB masih menunggu keputusan Kemenristek Dikti.
Sehingga ketika disetujui status itu, maka Program Studi Vokasi yang tidak awalnya tercantum dalam Organisasi Tata Kerja (OTK) UB, bakal memiliki status jelas. Tindak lanjut ini berupa pengajuan kepada Kemenristek dikti untuk mencantumkan nama Vokasi dalam OTK UB, sekaligus berubahnya nama Program Studi Vokasi menjadi Fakultas Vokasi.
 “Nama Program Studi Vokasi yang awalnya akan diubah menjadi Fakultas Sains Terapan, kini diajukan menjadi Fakultas Vokasi,” ucap Bisri.
Ia mengatakan harapannya jika pada Bulan Desember saat terbit OTK yang baru sudah tercantum Fakultas Vokasi.
“Kita sudah mengajukan ke Kemenristek Dikti, dan saat ini sedang diproses, kita berusaha terus memantau pihak Kemenristek Dikti harapannya agar proses yang telah kami ajukan segera selesai sebelum Bulan Desember,” jelas Bisri.
Ia pun menjelaskan, jika memang pada Bulan Desember OTK yang baru belum selesai dan nama Vokasi belum juga tercantum, maka Vokasi harus melebur dan menjadi satu dengan fakultas masing-masing. “Sebenarnya kalau saya lebih setuju untuk dikelola fakultas, karena jika dikelola fakultas akan lebih bagus,” ulas Bisri.
Namun dalam upaya yang sudah dilakukan sejauh ini, ia memberi bocoran, bahwa UB jika sudah membuat gedung praktik dan ruang laboratorium untuk mempersiapkan Fakultas Vokasi yang sudah ditindaklanjuti.
 “Kita sudah membangun juga laboratorium di kawasan Dieng untuk praktik para mahasiswa nanti jika OTK sudah beres,” ungkapnya.
Bisri mengaku akan berupaya dengan semaksimal mungkin untuk menambahi OTK UB dengan tercantumnya nama Fakultas Vokasi didalamnya.”Kita akan terus berupaya melalui jalan yang benar tentunya untuk bisa memasukkan nama Fakultas Vokasi dan tidak meleburkan Vokasi ke fakultas masing-masing,”cerita Bisri.
Terpisah, Prof DR Moch. Munir Direktur Vokasi membahas tentang tindaklanjut yang dilakukan pihak Rektorat. Ia ingin agar Vokasi tidak dileburkan dengan fakultas akademis karena kadar dan SOP yang berlawanan. Ketika ditanya soal jika dikelola oleh Fakultas masing-masing, Munir mengatakan, jika isu itu akan terjawab nanti pada OTK yang baru.
“Kita kan punya manajemen sendiri, punya para pengajar sendiri yang jelas-jelas lebih mempelajari praktik daripada teori, Vokasi adalah mencetak dan melahirkan praktisi, bukan akademisi, jadi pun efektifitasnya akan beda jika dikelola oleh fakultas masing-masing,” jelas Munir.
Munir mencontohkan, beberapa program studi yang jelas berbeda dengan program sarjana, ia menyebutkan mulai dari program perhotelan, broadcasting, Kehumasaan dan sekretaris akan menghadirkan para praktisi yang ahli di bidangnya masing-masing.
Ia pun mengharapkan dengan adanya pengajuan OTK yang baru ini, Vokasi bisa segera berdiri sendiri dan nama tercantum dalam OTK sebagai fakultas. Ia pun menegaskan sekali lagi, jika Vokasi sangat berbeda dengan pendidikan akademis strata 1. Jika upaya penindaklanjutan belum sampai pada target waktu, maka pihaknya akan melihat bagaimana perkembangan nanti, dan akan mengupayakan agar Vokasi bisa tetap menjadi Fakultas untuk mencetak praktisi
.”Semuanya memang terserah pihak Rektorat, tapi bagaimana jadinya jika hal yang tidak sesuai jalurnya lantas dipaksakan sesuai jalur,” ujar  Munir mengungkapkan kekecewaannya.
Munir menganggap tersesat jika memang upaya pengajuan OTK baru yang mencantumkan nama Fakultas Vokasi tidak selesai sesuai target waktu, ia keukeuh untuk tetap mempertahankan Vokasi sebagai fakultas yang berdiri sendiri.
 “Intinya adalah, jika dianalogikan, kita naik angkot jurusan AL namun tujuan kita adalah kearah yang dilalui CKL maka tidak akan sampai,”jelas Munir mencoba menganalogikan.(mgb/ary)