UM dan UB Kompak Perangi Perploncoan

PENYAMBUTAN: Agenda Ospek di kampus diharapkan bebas dari plonco dan kekerasan fisik. (DICKY BISINGLASI/ Malang Post)

MALANG - Beberapa pihak sudah menganggap plonco dalam Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKK-Maba) adalah hal kuno. Wakil Rektor III Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Ir. Arief Prajitno, MS berencana meniadakan segala bentuk plonco dan aktivitas fisik pada PKK-Maba UB, yang berlangsung mulai 30 Agustus hingga 2 September 2016 mendatang.
Gantinya, aktivitas PKK Maba diarahkan pada hal-hal yang berkaitan dengan arah kebaikan, seperti pengenalan aktivitas pendidikan di lingkungan UB, pemupukan etika dan sopan santun, pengenalan organisasi mahasiswa, dan masih banyak lagi.
Pelaksanaan PKK-Maba UB dimulai dengan pembukaan yang terpusat di lapangan depan gedung rektorat UB, pada hari pertama. Tiga hari selanjutnya, para mahasiswa diserahkan kepada fakultas masing-masing untuk memperkenalkan mengenai proses akademik di UB.
“Orang tua sekarang kritis sekali, jadi pengenalan kampus harus yang mendidik, arahnya ke kebaikan dan penanaman moral dan sikap kepada rekan mahasiswa baru,” jelasnya. Pihak rektorat pun tak segan akan memberikan sanksi kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa), yang terlibat sebagai panitia, apabila diketahui melakukan aksi pelonco dan kekerasan fisik.
“PKK Maba ini gawe nya rektorat, teman-teman dari BEM, EM dan Ormawa membantu kami sebagai pelaksana, sehingga kami sudah tegaskan betul agar tidak ada aksi pelonco nanti,” tegasnya. Pemberi materi pun juga bukan dari kalangan Ormawa maupun BEM, melainkan tim dosen yang mendapat amanah menyampaikan tentang seluk-beluk kehidupan belajar di masing-masing fakultas.
“Teman-teman BEM dan Ormawa kalau toh sampaikan materi, hanya seputar organisasi mereka,” tambahnya. Arief juga mengungkapkan, saat ini peraturan menteri mengenai larangan pelonco saat ini sedang dalam proses pembuatan. “Sekarang masih digodok, belum selesai. Kemungkinan tidak lama lagi edaran tentang larangan pelonco saat OSPEK akan segera turun,” ujarnya.
Hal sama juga terjadi di Universitas Negeri Malang (UM). Wakil Rektor III UM, Dr. Syamsul Hadi, M.Pd, M.Ed. menjelaskan, selama proses PKK Maba yang berlangsung mulai 15 Agustus hingga 20 Agustus 2016 mendatang, mahasiswa UM akan mendapat materi mengenai penulisan karya tulis ilmiah.
“Mahasiswa baru kami didik untuk berpikir ilmiah, diajari untuk nulis PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), kami perkenalkan semenjak dini agar mereka rajin menulis,” ujarnya. Syamsul menegaskan, PKK Maba adalah hal wajib bagi mahasiswa baru.
Pasalnya, sertifikat lulus PKK Maba sangat berpengaruh pada kegiatan akademik mahasiswa selama masih berada dalam ruang lingkup UM.  “Sertifikat lulus PKK Maba bisa digunakan sebagai salah satu syarat wisuda ataupun mengajukan ujian,” katanya.
Tak hanya itu, pengajuan beasiswa juga dipengaruhi dari sertifikat lulus PKK Maba yang dikantongi oleh masing-masing mahasiswa. “Oleh karena itu, jangan sampai mahasiswa baru tidak mengikuti kegiatan ini. Kalau tidak mengikuti sanksi nya mereka akan kesulitan nanti,” jelasnya. (nia/oci)