UM Tanamkan Asas Bhineka Tunggal Ika pada Maba


MALANG - Sambutan mahasiswa baru (Maba) dimanfaatkan sebagian besar jajaran senat dan rektorat universitas, menerapkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa melalui prinsip Bhineka Tunggal Ika. Hal itu juga dilakukan oleh Universitas Negeri Malang (UM), saat pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKK-MB), Senin (15/8), lalu.
Apalagi, guna memeratakan pendidikan, saat ini pemerintah mulai memberlakukan kelas afirmasi dan juga bidikmisi, untuk memberi kesempatan kepada mahasiswa asal luar Jawa, terutama dari daerah terpencil, terluar dan tertinggal.
Ketua Senat UM, Prof. Dr. Suko Wiyono, S.H, M.H menyampaikan, menerapkan asas Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika memiliki dampak lain, yakni membuat mahasiswa luar Jawa tersebut merasa nyaman melanjutkan pendidikan ke tanah Jawa.
Selanjutnya, ilmu tersebut akan dibawa kembali lagi ke tanah asal mereka, dalam rangka membantu pembangunan wilayah luar Jawa. Suko mengatakan, penting bagi antar mahasiswa untuk saling memanusiakan manusia dan juga menghargai setiap perbedaan yang mewarnai.
Ia mengatakan, rasa Bhineka Tunggal Ika yang belum tertanam di benak dan jiwa para mahasiswa, tak ayal seringkali menimbulkan konflik antar mahasiswa, antar suku dan golongan. “Karena mereka belum mengerti dan memahami perbedaan. Beda itu wajar. Dari awal negara kita berdiri sudah beda. Tetapi bagaimana cara menyikapi perbedaan ini yang butuh penanaman semenjak dini,” ujarnya.
Cara sederhana dalam menerapkan prinsip Bhineka Tunggal Ika, kata Suko, adalah dengan mengamalkan Pancasila dan juga saling memanusiakan manusia. “Hal ini yang semakin luntur. Dulu ada, tetapi sudah hilang. Sampai hari ini masih ada, tapi ormas tidak berasaskan Pancasila,” jelasnya.
Tak hanya menjadi tugas mahasiswa, tugas mempersatukan perbedaan agar tidak terjadi konflik internal juga menjadi tugas dan kewajiban para tenaga akademisi. “Pendampingan harus telaten, karena pendidikan disana masih belum merata. Sampai hari ini. Makanya bagus ada SM3T. Oleh karena itu, teman-teman kita dari sana perlu kita hargai keberadaannya,” jelasnya.
Suko juga mengimbau kepada para mahasiswa untuk tetap mempertahankan jiwa Pancasila dalam diri masing-masing. “Kalau itu tidak dipertahankan bisa hancur negara kita. Padahal ketahanan negara ini ada di tangan mereka,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor UM, Prof. Dr. AH. Rofi'uddin, M.Pd mengimbau agar mahasiswa baru menyelesaikan studi sesuai target, maksimal empat tahun. “Konsekuensinya kalau tidak segera selesai skripsi, jumlah bimbingan dosen menumpuk. Selain itu juga akan mempengaruhi fasilitas laboratorium juga,” jelasnya.
Selain itu, hal lain yang perlu dipikirkan mahasiswa terkait kepentingan pribadi mahasiswa itu sendiri. Ia mengatakan, apabila mahasiswa bisa segera menyelesaikan tugasnya maka kesempatan bekerja lebih cepat. (nia/udi)