Unidha Ajukan Tambahan Dosen Ber NIDK


MALANG - Menyelamatkan status aktif Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang beberapa waktu lalu sempat terkena “semprit” dari Kemenristek-Dikti, bisa menggunakan beberapa cara. Salah satunya adalah memanfaatkan tenaga pendidik praktisi, dari pegawai Pemerintah Daerah (Pemda) atau tenaga ahli dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ingin mengajar.
Para tenaga pendidik dari praktisi tersebut akan mendapat Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK). Sayangnya, untuk memperoleh NIDK, beberapa PTS harus ekstra sabar. Rektor Universitas Wisnuwardhana (Unidha) Malang, Prof. Dr. H. Suko Wiyono, S.H, M.H mengatakan, proses untuk mendapatkan hal tersebut agak lama.
“Kita kirim belum selesai sampai sekarang, ada tujuh calon yang kami ajukan belum mendapat tanggapan dari Kemenristek-Dikti,” katanya.
Pria yang juga berstatus sebagai ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI) Jawa Timur itu mengatakan, dosen NIDK sangat dibutuhkan bagi PTS, yang terkena semprit akibat kurangnya ratio dosen dan mahasiswa.
“PTS akan diuntungkan dengan transfer ilmu, selain itu juga dosen NIDK dihitung kuota dan ratio, tapi tidak untuk akreditasi,” terangnya. Suko menegaskan, status dosen NIDK terbatas pada menolong ratio dosen dan mahasiswa saja, tidak untuk akreditasi dan pendirian PT.
“Kalau akreditasi tetap hitungannya dengan BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi),” ujarnya. Suko menerangkan, PTS yang beberapa waktu lalu sempat terkena peringatan akibat ratio dosen, sudah banyak mengajukan dosen NIDK.
“Tetapi memang prosesnya lama, kami terus menunggu,” ulasnya. Sementara itu, PTS yang kini dalam tahap pengawasan, akan terus dikontrol. “Istilahnya harus cek up rutin,” tukasnya. Namun, Suko mengimbau PTS tak perlu cemas berlebihan. Pasalnya, pembinaan juga akan melibatkan APTISI.
“Supaya tidak ada protes, karena selama ini banyak yang protes, tidak ada peringatan apa-apa kok tiba-tiba non aktif,” jelasnya. Suko menjelaskan, proses pembinaan tersebut akan rutin dilangsungkan selama satu semester sekali. “Tepatnya setiap tengah semester,” ujar pria yang juga menjadi Guru Besar di Universitas Negeri Malang (UM). (nia/oci)