Unisma Kampanye Gerakan Literasi

UNTUK PERUBAHAN: FKIP Unisma menggelar seminar nasional Literasi Pendidikan, Sabtu lalu.(ALFINIA PERMATA SARI/ Malang Post)

MALANG - Membaca menjadi salah satu pintu awal dalam menghadapi persaingan global. Sayangnya, minat baca pada generasi Indonesia cukup rendah. Bahkan, data UNESCO menyebutkan, tingkat literasi Indonesia berada pada peringkat ke-102 dari 105 negara. Guna mendongkrak nilai tersebut, Universitas Islam Malang (Unisma) berencana membuat gerakan literasi.
Dr. Hasan Bisri, M.Pd, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unisma menyatakan, Indonesia sebenarnya tidak siap menghadapi perdagangan bebas. Pendidikan literasi, menjadi kunci utama memecah kendala tersebut.
Sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang bertanggung-jawab terhadap perubahan bangsa, Unisma berencana mengembangkan beberapa program literasi seperti literasi media, literasi sekolah, literasi keluarga dan literasi desa.
Hasan mengatakan, pendidikan literasi bisa diterapkan dimanapun dan kapanpun, bahkan di lingkungan tempat tinggal. Salah satunya dengan membuka rumah baca, di setiap satuan lingkungan Rukun Warga (RW).
“Ini salah satu langkah untuk memutus rantai kemiskinan. Di rumah baca itu bisa stock buku bacaan, mulai dari ringan sampai berat. Ibu-ibu bisa membaca buku resep, selanjutnya membuka usaha jajanan ringan,” ujarnya.
Hasan mengatakan cukup miris melihat fenomena kecanggihan teknologi, yang tidak sejajar dengan tingginya minat baca pada anak. Berdasarkan analisanya, ketertarikan membaca pada siswa dan mahasiswa di Inonesia cukup memprihatinkan.
“Termasuk sekolah dasar sampai perguruan tinggi tingkat daya bacanya masih rendah,” tuturnya.

Menurutnya, generasi muda saat ini memang memiliki kemampuan dan pengetahuan IT yang bagus, imbas dari perkembangan teknologi. Hanya saja, kemampuan tersebut tidak sejalan dengan pengetahuan umum yang dimiliki. Penyebabnya, minat baca semakin menipis hingga mempengaruhi pengetahuan siswa yang relatif instan.
Oleh karena itu, rencananya pihak Unisma juga akan melakukan workshop tentang gerakan literasi, dengan mengundang seluruh Kepala Sekolah (Kepsek) dan guru se-Malang raya, terkait gerakan literasi masuk ke sekolah.
Beralih di lingkungan mahasiswa, Unisma akan menerapkan rajin membaca kepada para mahasiswa dan juga dosen. “Minimal membaca lima buku sehari, sampai benar-benar terserap ilmunya,” katanya.
Hasan melanjutkan, idealnya setiap orang wajib membaca buku walau hanya satu lembar saja. Ia mengamati, bahkan minat baca masyarakat terhadap berita koran juga relatif rendah. “Paling berita heboh saja yang dibaca, tidak semuanya. Justru yang informatif tidak,” tukasnya.
Sementara itu, di lain sisi, Dr. Ari Ambarwati, M.Pd, Ketua pusat studi literasi Unisma mengatakan, kasus besar yang berujung pada kekacauan bangsa selama ini adalah contoh akibat kurangnya minat baca dan penyerapan informasi masyarakat.
“Sehingga gampang sekali masyarakat terprovokasi satu sama lain, tanpa adanya klarifikasi sebelumnya, tanpa penggalian informasi pendukung,” jelasnya. (nia/adv/oci)