Wisudawan Terbaik yang Nyambi Bisnis Konveksi


MALANG - Mengambil jurusan Pendidikan dan Bahasa Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Ratna Ningrum, wisudawan terbaik semester genap 2015/ 2016 Universitas Wisnuwardhana (Unidha), justru nyambi sebagai entrepreneur di bidang konveksi. Bahkan, saat ini ia sudah memiliki tiga karyawan untuk usaha yang telah ia geluti semenjak dua tahun lalu.
Mahasiswi peraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.94 itu mengaku setiap pagi, sebelum kuliah, menyempatkan diri sebagai tenaga pendidik di TK. Kegiatan selanjutnya, pukul 13.00 WIB hingga 17.00 WIB, ia teruskan kewajiban sebagai mahasiswi. Lepas dari itu, ia sibuk menjalankan usaha konveksinya.
Saat jam kuliah, dimanfaatkan betul oleh Ratna untuk mempromosikan barang dagangan ke rekan-rekannya. Perempuan yang 28 Agustus 2016 besok, berulang tahun ke-25 itu mengatakan, kesuksesannnya di dunia usaha tidak lepas dari peranan Unidha.
“Ada mata kuliah wirausaha, di situ dosen memacu kami untuk berwirausaha, saat itu saya mencari peluang dan kerjasama dengan teman-teman,” terangnya.
Job pertama yang ia dapatkan adalah sablon payung. Untuk mendapatkan bahannya, Ratna dan tim kulakan produk di Pasar Besar. Kesempatan besar pun kembali datang. Mahasiswa asal Desa Pucang Songo, Kecamatan Pakis, itu ditantang Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unidha, untuk mengerjakan kaos baju kelompok kerja nyata (KKN) mahasiswa. Tak berhenti sampai di situ, Rata kembali ditantang untuk membuat jaket dan topi.
“Saya anggap itu tantangan, karena awalnya basic saya adalah t-shirt, tidak sampai jaket dan topi. Alhamdulillah setelah dicoba akhirnya berhasil,” ungkapnya. Selama ini, Ratna masih memanfaatkan media online sebagai media penjualan. Namun kini ia sedang memperjuangkan produknya untuk bisa tembus pasar mall.
Lalu, dengan kesibukan yang padat, bagaimana cara Ratna mengatur waktu untuk belajar hingga meraih IPK tertinggi?. Rupanya putri ketiga pasangan Suhari dan Alm. Jumanah tersebut memanfaatkan malam hari sebagai waktu mengulang materi. Ia menyadari, tugas utamanya sebagai mahasiswi adalah belajar dan memanfaatkan ilmu yang didapatkan. Usahanya tersebut tak berakhir sia-sia, nyatanya ia berhasil menuntaskan pendidikan sarjana dalam kurun waktu empat tahun.
“Yang penting manajemen waktu,” tegasnya. Wanita kelahiran tahun 1991 ini mengatakan, apa yang ia raih saat ini tak lepas dari dukungan dosen, dan doa restu dari orang tua. (nia/han)