Membentuk karakter anak sejak janin merupakan suatu metode pendidikan karakter yang paling efektif. Meski masih lemah dan kecil, janin memiliki unsur perasaan dan semangat luar biasa untuk menjalin kedekatan emosi dengan orang tuanya. Sejak di dalam kandungan, janin harus disambut dengan perasaan bahagia dan penuh kasih sayang. Anak-anak yang diasuh oleh orang tua yang berbahagia dan mampu memberikan penerimaan secara positif tanpa syarat akan lebih mudah untuk tumbuh menjadi generasi yang ceria, bahagia, dan mampu melewati tantangan kehidupan. Sebaliknya, pengasuhan yang didominasi kebencian pada tugas keayahbundaan dan kemarahan cenderung membentuk sikap agresif  pada anak.
Buku ini memberikan wawasan bagi orang tua agar mampu membentuk karakter positif anak melalui pembentukan karakter positif, kreativitas, kecerdasan emosi, dan minat. Empat hal ini merupakan pilar pendidikan karakter anak sejak janin. Karakter positif akan membuat anak menjadi sosok yang tangguh dan pantang menyerah. Kecerdasan emosi akan mengarahkan anak untuk mampu melewati ujian kehidupan. Sedangkan, kreativitas dan minat akan tunas bagi kesuksesan dan keberhasilan anak di masa depan.  
Seorang ibu yang selalu tegang dan kecewa saat mengandung anaknya, maka ia telah menginvestasikan karakter negatif. Demikian pula seorang ayah yang pemarah dan pembohong. Setiap belaian kepada anak hanya akan menularkan ketakutan, kegelisahan, dan kekacauan quantum biologis pada anaknya (halaman 69). Janin merupakan makhluk yang suci. Oleh karena itu, selama hamil seorang  ibu harus bersikap ramah dan lembut kepadanya.
Ketika hamil, sebaiknya seorang wanita tetap melakukan aktivitas yang menyenangkan sekaligus bermanfaat. Sejumlah aktivitas ringan seperti membaca, menulis, membuat kerajinan, mencoba resep masakan, mendengarkan musik, dan lain sebagainya akan membawa pengaruh positif pada janin. Secara tidak sadar, ibu sudah menanamkan nilai-nilai kreativitas pada anak. Saat hamil, kebahagiaan yang dirasakan seorang ibu juga akan berdampak baik pada anak. Faktor kebahagiaan dapat mempengaruhi kondisi janin yang mempengaruhi perkembangan otak dan kemampuan-kemampuan lainnya (halaman 105-106).
Para orang tua selalu mengharapkan anak-anaknya memiliki ketahanan mental sehingga dapat melewati tantangan kehidupan di atas aturan kepatutan. Agar memiliki ketahanan mental, seorang anak hanya membutuhkan kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi mampu mendorong anak untuk bijak dalam mengambil keputusan, mengatasi konflik, mengatasi tekanan, dapat berlaku empati, dapat berkomunikasi dengan baik, dan bersikap fleksibel. Dalam bidang apa pun, pemilik kecerdasan emosi akan memiliki perhatian terhadap sesama, kebijaksanaan, karisma, spiritualitas, kemampuan mendengar, pandangan yang luas, komitmen, dedikasi, dan keyakinan kuat. Hal-hal itulah yang akan menopang kesuksesan seseorang.
Mendidik kecerdasan emosional sejak janin dapat dilakukan dengan cara membelai janin, sering mengajak bicara janin, dan memperdengarkan musik. Membelai janin sejak dalam kandungan dapat membuat anak merasa disayangi, dihargai, dan diterima oleh lingkungannya. Berdasarkan riset ilmiah, janin yang sering dibelai juga akan lebih mudah dikontrol ketika dewasa, memiliki tingkat fokus yang baik, dan lebih mandiri (halaman 115-117). Anak-anak dengan kecerdasan emosi yang baik akan terarah untuk memiliki karakter positif.
Para orang tua yang memberikan pendidikan emosi positif pada anak sejak janin sesungguhnya telah memberikan investasi yang sangat berharga pada anak. Selain karakter, kreativitas, dan kecerdasan emosi, sejak berada di dalam kandungan, para orang tua sudah bisa menumbuhkan minat positif pada anak. Hal ini bisa dilakukan dengan memperkenalkan beberapa stimulasi seperti memperdengarkan musik, membacakan dongeng, puisi, dan lain sebagainya. Semakin sering janin mendengarkan hal-hal positif, maka semakin terasah minat alamiah pada dirinya. Selamat membaca.
Judul Buku    : Membentuk Karakter Anak Sejak Janin
Penulis        : Nurla Isna Aunillah
Penerbit    : FlashBooks
Cetakan    : I, 2015
Tebal        : 172 Halaman
ISBN        : 978-602-296-137-6

Peresensi    : Nurul Lathiffah, Alumnus Psikologi UIN Yogyakarta

Halaman 1 dari 83