Pak Pitojo (batik biru ) dan Pak Kustamar (kemeja putih)

Akademisi Kota Malang menyodorkan solusi untuk mengatasi banjir yang terjadi di permukiman warga. Dekan Fakultas Teknik UB, Dr. Ir. Pitojo Tri Juwana, MT dan Wakil Rektor ITN, Dr. Ir. Kustamar, MT, menyajikan satu pemikiran yang sama, yakni pembuatan sumur resapan di rumah warga.
Kustamar mengatakan, model sumur resapan yang dangkal bisa dijangkau oleh warga untuk pembuatannya. “Sumur resapan ini tidak dalam, tapi bisa terjangkau warga. Sumur resapan yang dangkal, bisa digali tanpa menyentuh akuifer atau lapisan bawah tanah yang mengandung air dan dapat mengalirkan air,” kata Kustamar, di kantor Malang Post.
Menurutnya, sumur resapan model ini, lebih praktis dan bisa dimiliki oleh rumah warga. Karena, model sumur resapan dangkal ini, tidak membutuhkan terlalu banyak ruang. Dia juga menambahkan, ide membuat sumur resapan dangkal ini, harus dibarengi dengan penyaringan agar tidak mencemari air tanah yang berada di bawah.
“Kalau sumur resapan digali sampai akuifer, nanti air tanah tercemar. Boleh digali sampai dalam, asalkan ada penyaringan,” jelasnya. Dia menyetujui peraturan yang mengharuskan rumah warga harus memiliki sumur resapan.
Hal senada diungkapkan Dekan FT UB. Pitojo menyebut sumur resapan sudah dimasukkan dalam Perda Kota Malang. Namun, penerapan Perda ini masih dalam tanda tanya. Karena, dari pengamatannya, sebagian besar rumah yang dibangun di Kota Malang, belum memasang sumur resapan untuk menampung air. Padahal, jika aturan ini diterapkan, maka dia meyakini permukiman warga tidak akan digenangi air.
“Kami tekankan, banjir pada tahun-tahun depan akan semakin besar. Untuk mereduksi itu, tiap rumah harus ada resapan. Pemkot Malang, bisa mewajibkan tiap RT di 57 Kelurahan, punya sumur resapan. Dengan begitu, drainase tidak over capacity dan tidak akan ada banjir di jalanan,” tegas Pitoyo.
Idealnya, harus ada bozem atau danau buatan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk mewadahi air hujan. Namun, dengan peningkatan kepadatan penduduk, ruang terbuka semakin menyusut. Sehingga, solusi tercepat adalah memasang sumur resapan, atau membuat jalan tol air yang dialirkan ke sungai.
“Selain itu, DKP kan punya taman-taman. Alangkah bagusnya kalau taman dilengkapi dengan sumur resapan juga. Sehingga, air hujan tidak tumpah dari taman ke jalanan. Kami ada prototipe sumur resapan,” tutup Pitojo. Dia juga menambahkan, dana untuk pembuatan sumur resapan ini bervariasi tergantung ukuran dan kedalaman sumur. Mulai Rp 7,5 juta.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Malang Post Dewi Yuhana mengingatkan kepada peserta diskusi, bahwa empat tahun lalu Malang Post juga pernah menggelar diskusi menangani banjir. Kala itu, daerah yang menjadi fokus penyelesaian masalah adalah RW 23 Glintung.
“Kami inisiasi diskusi, juga memberikan solusi dengan membangun sumur resapan pertama kali di Glintung. Sumur tersebut ternyata berhasil dan sekarang Glintung bebas banjir, bahkan menjadi kampung go green percontohan,” urai Hana, panggilan akrabnya.
Karena itulah, untuk mengurangi banjir di area Gadingkasri dan sekitarnya, Hana mengatakan Malang Post juga siap menyalurkan bantuan corporate social responsibility (CSR) untuk pembangunan sumur resapan. Ide ini langsung disambut positif oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) Kota Malang, Jarot Edy Sulistyono. Karena APBD 2017 sudah didok,  maka kemungkinan realistis untuk alokasi dana sumur resapan ini bisa diambilkan melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2017. (fin/han)

Halaman 1 dari 51