Puisi Marisca Irgi Laochong, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang


Bumi memaksa kita untuk dewasa sebelum waktunya, mengakar pada jalanan dan kejinya kenyataan. Tubuhku berusaha meniti tinta merah, agar nampak dari kejauhan sanubari. Terkadang aku hilang dan bersembunyi pada keangkuhan nurani, kemudian merayap jauh di dasar hati.

Terusir. Menyambung nafas sendirian, dan tubuhku hidup dalam sebuah dendam. Kesumatnya pena semesta, memberi makna yang berbeda dari tulisan pada secarik kertas, bekasku makan.

Anak-anak, remaja, terlampaui dan tak semestinya. Aku hidup berpundak baja, mengarungi kota dan trotoar yang begitu keji, tak ada rangkulan dan nyanyian pengantar tidur. Sebuah jalanan yang terlonta-lonta kemudian, pagi.

Pagi adalah waktu perut meronta-ronta untuk dikasihi, aku begitu benci kemudian aku ingin marah kemudian aku tidak tega. Dan berlalu dengan temaramnya rasa menyusuri kota tua.

Aku mengenal Tuhan. Tapi aku belum tau tentang sebuah keadilan, aku tumbuh dengan dendam. Dan kata kucing hitam, ada rahasia untuk ini. Sungguh aku tak mengerti apa maksudnya, semakin aku memaki dunia, semakin juga kucing hitam itu memberi petuah kepadaku.

Kucing hitam itu adalah sahabatku di balik gedung yang mampu mencakar langit itu, dia temanku tidur dan makan. Kami sama, sering makan sisa-sisa manungsa yang murka, dan membuang nasi yang mengenyangkan hati.

Turyantapadha, 16 November 2016

Halaman 1 dari 24