MALANG - Acara Launching buku Ekspedisi Samala  di Hotel Tugu kemarin berlangsung istimewa. Bukan hanya dihadiri oleh tiga kepala daerah di Malang Raya, Bupati Malang Rendra Kresna, Wali Kota Malang Moch Anton dan Wawali Kota Wisata Batu Punjul Santoso, tapi juga dikejutkan oleh budayawan dan bos Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana.
Jaya yang kebetulan sedang berlibur di Malang dan menginap di Hotel Tugu, datang ke Keraton Ballroom Hotel Tugu untuk menyaksikan peluncuran buku tersebut. Dia tidak sekadar hadir, tapi juga ikut berbicara menanggapi buku yang menguak sejarah Majapahit dari Malang Raya itu. “Indonesia saat ini mengalami satu hari bersejarah, tolong tepuk tangan. Karena saya tidak menduga Malang Post mengadakan acara yang luar biasa seperti ini, makanya saya mau datang ke sini,” kata Jaya dengan pakaiannya yang khas, sarung batik dan selendang sewarna dengan sarungnya.
Menurut Jaya, acara untuk memelajari sejarah bangsa, seperti Ekspedisi Samala yang mengungkap perjalanan Majapahit dari Malang Raya, sangat penting agar masyarakat tahu tentang jati dirinya. Bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar, punya catatan sejarah hebat yang mampu menguasai seluruh nusantara bahkan sampai Asia Tenggara. Menampilkan sejarah Majapahit melalui buku ini akan membawa dampak positif kepada masyarakat agar mereka terhindar dari berbagai penjajahan bangsa lain.
Penjajahan saat ini memang tidak sama dengan penjajahan Belanda , Portugis atau Jepang, tapi penjajahan dalam bentuk lain, seperti ekonomi dan kebudayaan. Neokolonialisme dalam bentuk budaya sudah tidak bisa dibendung lagi. ‘’Kita harus punya jati diri bangsa Indonesia, bukan Korea, Amerika atau Singapura. Kegiatan ini  seperti ini akan membangkitkan kesadaran untuk mencintai budaya bangsa,’’ terangnya.
Dia mengingatkan, pasar bebas yang sudah di depan mata adalah model baru dari penjajahan. Dengan dalih pasar bebas, negara kuat akan mengusai yang lemah melalui ekonomi. Awalnya, ekonomi, selanjutnya pada bidang lain, tanpa sadar akan mengambil segalanya tanpa perlawanan. Dia menyontohkan saat kali pertama VOC masuk ke Indonesia dengan dalih berdagang kemudian menguasai komoditas penting. “Kondisinya sama seperti sekarang, tanpa perlawanan, kita menyerahkan semuanya kepada asing,” paparnya.
Untuk mengantisipasi masalah tersebut, masyarakat harus memiliki ketahanan budaya agar tidak mudah dipengaruhi asing.  Pemahaman terhadap sejarah melalui ekspedisi dan menuliskannya dalam buku merupakan bagian dari penguatan budaya bangsa. ‘’Saya salut, Malang Post mampu menggelar acara dengan manfaat yang besar agar masyarakat tahu kebesaran bangsa di masa yang lalu. Kegiatan ini harus tetap dilanjutkan dalam bentuk yang lain.’’
Mengenai kahadirannya dalam acara tersebut, Jaya menjelaskan awalnya hanya ingin berlibur dan menikmati Malang dari Hotel Tugu. Kebetulan dia bertemu dengan panitia yang kemudian mengajaknya ke acara tersebut. Di luar dugaan, Jaya menyambut baik undangan itu. Bukan hanya hadir, dia bahkan ikut berbicara mengomentari buku yang disebutnya sebagai karya yang luar biasa. Ekspedisi menelusuri situs-situs peninggalan Majapahit yang tersebar di Malang Raya kemudian membukukannya adalah pekerjan besar dengan banyak manfaat.
Kehadirannya dalam acara tersebut disebutnya sebagai upaya memperpanjang umur. Kenapa? Sebelum acara, dia sempat makan makanan kesenangannya sate Bang Saleh. Padahal, oleh dokter sudah diingatkan tentang kesehatannya, setiap makan sate umurnya akan berkurang. ‘’Berarti akan mati kan? Kalau saya makan sate akan mati, tidak makan akan mati juga. Kalau sama-sama mati, lebih baik saya makan sate saja,’’ katanya usai menghabiskan 30 tusuk sate kesayangannya.
Selain potensi budaya, Jaya juga menyebut potensi yang besar dari Malang Raya sebagai tujuan wisata, terutama situs peninggalan masa lalu. Setelah menyaksikan berbagai situs yang ditampilkan dalam slide, Jaya menyebut kekayaan sejarah di Malang Raya tidak terhingga. Dia lantas membandingkan dengan Vietnam yang saat ini tengah gencar mempromosikan salah satu candi purba kala yang dianggap terbaik. Tergoda oleh promosi tersebut, Jaya berusaha mengunjungi candi yang ada di pelosok Vietnam, butuh beberapa jam untuk mencapainya melalui perjalanan yang berat. Padahal candi itu ternyata biasa-biasa saja, jauh lebih baik candi yang ada di Malang Raya.
‘’Kalau dibanding candi yang ada di Malang Raya, candi di Vietnam itu tidak ada apa-apanya, tapi pemerintah Vietnam berani membuat promosi besar-besaran. Makanya Pak Bupati dan Walikota harus berani mempromosikan peninggalan sejarah yang luar biasa ini sebagai objek wisata kepada turis manca negara. Bila perlu Pak Wali dan Pak Bupati harus berani sombong memamerkan kekayaan daerahnya,’’ urainya.
Senada dengan Jaya, Bupati Malang Rendra Kresna menganggap kegiatan ini sebagai bagian dari penguatan jati diri bangsa menghadapi pasar bebas yang sudah di depan mata. Kabupaten Malang memiliki banyak kekayaan peninggalan masa lalu dan objek wisata yang indah. ‘’Kita harus siap menghadapi pasar bebas dengan menjual kekayaan budaya kita,’’ terangnya. Hal yang sama juga disampaikan Wali Kota Malang Moch Anton yang menganggap buku tersebut bisa menjadi petunjuk bagi wisatawan yang berkunjung ke Malang. ‘’Kita punya kekayaan budaya yang tidak ternilai. Ini yang harus kita tawarkan sebagai objek wisata andalan,’’ katanya.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Wisata Batu Punjul Santoso menyatakan bahwa kegiatan ini untuk mengingatkan kebesaran bangsa Indonesia di masa lalu. Sambil mengutip patih Gajahmada yang dengan gagah berani melakukan penaklukan sampai ke seluruh nusantara bahkan Asia Tenggara. ‘’Sebenarnya waktu itu Gajahmada akan menaklukkan Australia, tapi karena dia tidak memakai baju, dia takut masuk angin, apalagi waktu itu belum ada Tolak Angin,’’ ujarnya disambut tawa hadirin.
Sementara itu, Head of Corporate Regulatory Affairs Bentoel Group, Hernowo mengatakan, pihaknya mendukung Ekspedisi Samala karena memiliki konsep dan tujuan yang jelas. Berawal dari obrolan santai, pihak Bentoel Group langsung memahami tujuan Ekspedisi Samala hingga akhirnya memberikan dukungan dan kerjasama bersama Malang Post.
 “Ekspedisi Samala dan penerbitan buku hasil ekspedisi ini untuk mengingatkan tentang akar budaya, sejarah dan peradaban di nusantara, ” kata Hernowo.
Melalui ekspedisi yang berbuah buku, lanjut dia, dapat mengangkat potensi pariwisata di Malang Raya. Dengan potensi pariwisata dan budaya yang dimiliki itu bisa disinergikan dengan daerah lain di Indonesia seperti Bali.
Peluncuran buku berjudul ‘Menguak Kemasyurhan Majapahit dari Malang Raya’ ini merupakan akhir dari rangkaian Ekspedisi Samala yang digelar Malang Post. Acara launching buku juga diisi dengan kegiatan bakti budaya berupa pemberian talih asih kepada perwakilan juru pelihara candi dan situs, penyerahan bantuan notebook kepada juru pelihara candi, komunitas pelestari seni budata serta penyerahan hadiah kepada peserta lomba foto yang merupakan rangkaian pra ekspedisi  pada September lalu.
Pameran foto juga memikat para pengunjung Hotel Tugu, lokasi digelarnya launching buku juga didatangi tamu-tamu hotel ini. Acara kemarin juga dihadiri para rektor perguruan tinggi, Prof M. Bisri (UB), Prof Ah. Rofi’uddin (UM), Prof. Muhadjir Effendy (UMM), Prof. Mudjia Rahardjo (UIN Maliki Malang), Ir. Soeparno Djiwo (ITN) di Malang misalnya, menyatakan kekaguman mereka.(van/nun)

Halaman 1 dari 15