Mohon Ma'af, website sedang perbaikan.
Dapatkan Update Berita Terbaru di :
        www.malangpost.net

Gumuk Itu Ternyata Candi Besar

Di RT 3 RW 4 Desa Srigading Kecamatan Lawang terdapat sebuah candi besar yang tersembunyi di tengah lahan tebu. Warga setempat menyebutnya sebagai gumuk, sebab tanahnya membukit setinggi sekitar 2,5 meter. Siapa sangka, gundukan bukit itu merupakan candi yang ditopang struktur batu bata raksasa.

Desa Srigading diperkirakan dulunya merupakan bagian dari desa kuna, bernama Linggasutan. Pada masa Pu Sindok 851 saka (929 masehi) dikeluarkan prasasti Linggasutan. Berisi penetapan desa di wilayah Rakryan Hujung Mpu Madhura Lokaranjana sebagai sebagai sima swatantra. Maka Linggasutan harus menambah pajak 3 emas dan kerjabakti selama dua masa untuk pemujaan bhatara di Walandit.
Catatan ini tertulis rinci di halaman 188 buku Sejarah Nasional Indonesia II. Secara berturut-turut juga muncul prasasti Gulung-Gulung (929 masehi). Isinya terkait permohonan Rakryan Hujung Mpu Madhura, untuk menjadikan sawah di Desa Gulung-Gulung sebagai sima bagi bangunan suci Mahaprasada di Himad.
Lebih lanjut pada tahun 930 masehi juga muncul lagi prasasti Jru-Jru. Kali ini Rakryan memohon agar desa Jru-Jru di daerah Linggasutan menjadi sima swatantra. Agar bisa merawat bangunan suci Sang Sala di Himad. Siapa sangka 420 tahun kemudian, bangunan suci itu masih berdiri dengan tegak.
Tepatnya pada masa Majapahit, Gajahmada mengeluarkan prasasti Himad Walandit. Isinya mengenai jalan keluar atas sengketa batas Desa Himad dan Walandit. Prasasti diterbitkan ketika Gajahmada masih menjabat sebagai rakryan mapatih di Janggala dan Kadiri. Diperkirakan sekitar tahun 1350 masehi, sungguh masa yang panjang untuk umur sebuah bangunan suci.
Tak kurang dari 664 tahun berikutnya, bangunan suci itu masih berdiri, meski tak tegak lagi. Tim Ekspedisi Samala didampingi tim ahli yakni arkeolog M. Dwi Cahyono dibuat terperangah dengan kondisi candi. Sebuah bukit kecil setinggi sekitar 2,5 meter ditumbuhi semak-semak. Di balik semak-semak itulah, terdapat batu bata berukuran super besar.
Dwi Cahyono menduga, ini adalah kaki candi. Sedangkan batu-bata yang menutupinya merupakan bangunan atas. Jika benar, bangunan suci ini adalah Prasada I Himad untuk memuja Bhatara Sang Hyang Swayambhuwa (penguasa Gunung Bromo). Makanya, bangunan suci itu berorientasi ke Gunung Bromo.
Di atas struktur candi yang rubuh, terdapat sebuah yoni berukuran besar pula, tinggi sekitar 70 cm dengan lebar sekitar dari 50 meter. Sayangnya, lingga-nya sudah hilang. Diperkirakan bangunan ini sebesar Candi Badut, seluas 8 x 8 meter persegi.
Candi ini, berkait prasasti Himad Walandit atau prasasti Gajahmada yang dikeluarkan Gajahmada untuk sengketa dua desa tetangga yakni Himad dan Walandit. Saat itu, Walandit menggeser tapal batas desa. akibatnya ketika ditarik garis lurus, Prasada I Himad berpindah ke Desa Walandit (Diperkirakan Dusun Blandit di Desa Wonorejo Singosari).
Jarak antara Srigading dan Blandit sekarang, jika ditarik garis lurus sekitar 5 km. Lokasinya juga berdekatan dengan Desa Gulung-gulung (sekarang adalah Lok Jati). Lok Jati persis di selatan Srigading atau berjarak dua kilometer.

Menurut Dasuki (40 tahun) warga RT 3 RW 4 Srigading. Candi itu berada di lahan tebu Riamun warga RT 2 RW 4 Srigading. Candi itu, dulunya memiliki dua arca, yang diperkirakan adalah Durga dan Siwa. Selama ini memang belum tercatat di R.O.C. atau Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-Indië voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera.
Candi tetap utuh, sebab warga desa tak berani main ke candi. Batu-batu juga tak berani mengambil, sebab ada kepercayaan bakal meninggal dunia, jika mencurinya. Posisi Yoni sendiri, saat ini ambles, karena menurut Dasuki, dulu pernah digali orang yang ingin mencari harta.

Dwarapala di Ketindan

Masih di Lawang, tim ekspedisi juga mendatangi Dusun Gebug Tegalrejo Desa Ketindan Kecamatan Lawang. Tujuannya untuk mencari lokasi Prasasti Ketiden yang dikeluarkan masa Wikramawardhana Raja Majapahit sekitar tahun 1317 saka. Namun ternyata malah mendapati peninggalan dua arca dwarapala di tanah alm H Safii. Arca berada di tanah milik Durait (60 tahun), keluarga H. Safii.
Agus Harianto (32 tahun) cucu H. Safii mengatakan bahwa arca itu tak pernah dipindah sejak dulu. Yakni menghadap ke ke barat daya atau hadap ke puncak arjuno. Dua arca dwarapala disertai dua balok batu disampingnya.
Arkeolog Dwi Cahyono menduga, ada bangunan candi yang masih terpendam. Bisa saja dwarapala ini juga berhubungan dengan prasasti Katiden (sekarang Ketindan) 1 dan 2. Katiden 1 dikeluarkan tanggal 24 Maret - 22 April 1392 (1314 saka). Sedangkan Prasasti lumpang atau Katiden 2 dikeluarkan 1317 saka (17 juli - 15 agustus 1359) masa pemerintahan Wikramawardhana.
Isi prasasti mengenai Salurah Katiden yang terdiri dari 11 desa ditetapkan sebagai desa perdikan bebas pajak. Kebijakan itu awalnya ditetapkan Bhre Wengker kemudian ditetapkan ulang oleh Wikramawardhana atau cucu Bhre Wengker. Isi prasasti cukup unik, yakni mengenai konservasi.
Sesuai buku Tata Negara Majapahit, Muhammad Yamin menyebut Prasasti Katiden sebagai Prasasti Malang. Prasasti ini terbuat dari tembaga (tamra prasasti) dan ditemukan di sekitar Kota Malang. Prasasti merupakan dua muka atau rectoverso.
Dalam buku itu dikutip bahwa bagian depan [recto] berbunyi:
1. Iku wruhane si para same salurah wetaning kawi sakuloning bañu, sawetaning bañu, pa-
2. Ra waddhana, juru, buyut, makanguni pacatanda hi turen, yen ingong hamagêhakên ha-
3. Ndikanira talampakanira paduka bhatara śri paramêśwara sira sang mokta ring wisnubhawana, handikani-
4. Ra sira sang mokta ring krttabhuwana, dene kapurwastitine si para same ri katiden
5. Kasawlas deśa, i rehe hangraksa halalang i gunung lêjar, luputa ri saprakara luputa
6. Ring jalang palawang, taker turun, makanguni tahil sakalwiraning titisara luputa, makanguni
Sedangkan bagian belakang [verso] berbunyi :
1. Dening alas kakayu gaten hantiganing pasiran, tan ananing anglarangana hi rehi tan wnang
2. Larangana, tan ananing aningkah-aningkuha, kang rajamudra yen uwus kawaca kagugona dene-
3. Kang deça hi lumpang, titi ka 1, i śaka 1317.
Terjemahan bagian depan adalah terkait : 1. Pemberitahuan kepada seluruh penduduk lembah di timur Gunung Kawi, baik sebelah barat banu (sungai) maupun sebelah timur sungai. 2. Diberitahukan kepada sekalian wedana, juru, buyut, dan juga pancatanda di Turen, bahwa telah diperkuat 3. perintah paduka bhatara sri Parameswara, yang wafat di Wisnubhawana, begitu pula perintah.  4. Sri Paduka yang wafat di Kertabhuwana, berhubung dengan kedudukan warga penduduk Katiden. 5. Yang meliputi sebelas desa. Karena mereka berkewajiban menjaga hutan alang-alang di Gunung Lejar, maka mereka haruslah dibebaskan dari apa pun, mereka akan dibebaskan
6. dari pajak rumah, pajak beras dan juga tugas, dari segala macam upeti mereka akan dibebaskan. Sedangkan sisi belakang : 1. mengenai hutan pohon gaten  dan telur penyu, tak ada seorang pun yang bisa melarang mereka, atas dasar bahwa mereka tidak maka 2. Dilarang. Tidak ada yang harus menipu mereka dalam hal apapun. Demikianlah rajamudra-ku (perintah), ketika telah dibacakan akan disimpan oleh desa 3. di Lumpang. Tertanggal pada bulan pertama, 1317 Saka [2].(ary)

Please publish modules in offcanvas position.