Mohon Ma'af, website sedang perbaikan.
Dapatkan Update Berita Terbaru di :
        www.malangpost.net

Jur pelihara (jupel) situs punya banyak cara mengamankan arca. Apalagi arca-arca itu pernah dicuri, maka mereka lebih siaga. Salah satu contohnya tiga arca di punden Desa Tambak Sari, Kecamatan Purwodadi, Pasuruan.

Tiga arca dikerangkeng dalam sebuah rumah situs. Warga memperlakukan tiga jejak sejarah itu layaknya benda bertuah. Dipagari besi, wangi dupa, aneka bunga-bunga dan lilin menyala di depan arca. Warga setempat menyebutnya betoro guru.
“Kalau hajatan, warga biasanya ke sini untuk antar sesaji supaya lancar,” kata Muntriasih, warga Tambak Sari.
Warga sangat menjaga situs itu. Mereka rupanya punya pengalaman trauma lantaran pernah dibobol maling. Karena itulah kini dipagari besi bagai dalam kerangkeng. Tiga situs yang dipagari ketat itu yakni arca siwa dan dua arca dewa lokal.
Muntriasih tak hafal waktu pencurian yang pernah terjadi. Setelah melakukan pencarian, akhirnya warga mendapatkan arca itu lagi.  Tiga arca itu sebenarnya tidak ditemukan di sekitar desa tersebut, tapi berasal dari Gunung Arjuno. Maklum, Desa Tambak Sari berada di kaki Gunung Arjuno yang dipenuhi arca masa akhir Majapahit.
Diduga arca-arca itu berasal dari kawasan Sepilar yang berada di Gunung Arjuno. Arca yang ditempatkan di punden Desa Tambak Sari itu merupakan arca lokal lantaran tak dilengkapi atribut dewa lazimnya dewa Budha atau pun Hindu.
“Arca yang tak beratribut ini merupakan arca dewa lokal. Disebut dewa lokal karena arwah nenek moyang yang diperdewa,” kata Tim Ahli Ekspedisi Samala, M Dwi Cahyono.
Cara pembuatannya pun sederhana. Yakni pemahatannya mengikuti bentuk batuan bahan dasar arca. Bentuk detailnya tak ditampakkan pada arca tersebut. Kondisi ini sangat terlihat pada dua arca itu.
Sedangkan satu arca lain yang merupakan arca Siwa menunjukkan bentuk yang berbeda. Hal itu tampak pada tangan kiri yang membawa camala dan tangan kanan membawa aksamala. Bentuknya tegak lurus. Singgasananya dari teratai yang merekah. Arca itu juga dilengkapi dengan kain penutup bawah mengenakan busana lengkap dengan kirata mahkota yang memakai jamang.
Selain itu juga terdapat  kalung atau hara, pakai gelang tangan kankana, keiyura, pakai banda atau pengingkat kain. Kain dilengkapi wiro dan uncal, ada sampur depan dan ada dodot atau kain panjang. Ini merupakan standar ornamen untuk  arca dewa.
Di saat tertentu, terutama kemarau berkepanjangan, masyarakat setempat menggelar ritual panggil hujan. Caranya memandikan atau mengguyur arca dengan air. Ini merupakan praktik magi imitative atau meniru sesuatu seperti hujan agar hadir secara nyata. Tradisi memanggil hujan juga dilakukan di Tengger yang merupakan peninggalan masa Majapahit. Di Tengger disebut tradisi Tiban yang juga untuk memanggil hujan. (van/han)
 

Please publish modules in offcanvas position.