Mohon Ma'af, website sedang perbaikan.
Dapatkan Update Berita Terbaru di :
        www.malangpost.net

Mengeksplorasi jejak peradaban di Gunung Arjuno butuh kekuatan fisik dan kesabaran ekstra. Apalagi Tim Ekspedisi Samala harus  melakukan penelusuran hingga Sepilar yang letaknya lebih tinggi dengan medan  sangat terjal.

Hari kedua pendakian di Gunung Arjuno, area sekitar arca Togog tak sekadar menjadi tempat perhentian untuk melanjutkan riset. Tapi juga tempat istiarahat walau tanpa keteduhan di kawasan yang berada hampir pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.
Punggung Gunung Arjuno tempat ditemukan arca Togog merupakan hamparan padang sabana yang luas. Terik matahari memanasi  rumput ilalang di hamparan padang sabana itu menguning. Matahari bagai memanggang setiap pendaki yang melewati kawasan tersebut.
Arca lokal itu ditemukan bukan berdasarkan penggalian arkeologis. Namun berdasarkan mimpi peziarah. Hanya saja sampai saat ini tak diketahui siapa yang mendapat mimpi dan bagaimana mimpinya itu. “Waktu itu ada orang ritual, ya sekitar tahun 2008. Ya kondisinya seperti saat ini,” kata  Nur Yusuf Eko, petugas retribusi pos pendakian Tambaksari yang ikut bersama Tim Ekspedisi Samala.
Saat ditemukan, arca yang dipahat menyesuaikan kondisi batu vulkanik itu terkubur dalam timbunan tanah.  Kini arca tersebut dijadikan sebagai salah satu tempat ritual para peziarah.  Dilihat dari posisi atau tata letaknya, arca togog berorientasi ke arah makutarama. Jika ditarik lurus, posisinya sejajar dengan Makutarama. Karena itulah, arca tersebut diduga juga sebagai Dwarapala. Sebab fungsi Dwarapala yakni abayan yang memiliki fungsi penangkal serangan ghaib.
Tak jauh dari arca togog, terdapat pula arca yang sama persis. Butuh waktu sekitar 15 menit mendaki ke arah Makutarama.  Karena sebaran temuan inilah, arkeolog M Dwi Cahyono meyakini masih terdapat tinggalan sejarah lain yang terkubur di punggung Gunung Arjuno.
 “Belum ada yang memberi nama arca ini. Ya mungkin Dwarapala seperti yang sudah dijelaskan tim ekspedisi,” kata Nur.
Bentuknya lebih besar dari  togog. Pola pahatannya mengikuti batu sehingga kesan megalitik masih sangat tampak pada arca tersebut. Gambaran fisik, arca memiliki perut yang lebih buncit. Dari arca belum bernama ini, Tim Ekspedisi Samala yang terdiri dari Bagus Ary Wicaksono,  Dicky Bisinglasi, Vandri van Battu dan arkeolog UM yang juga tim ahli ekspedisi, M Dwi Cahyono harus merangkak ke atas Makutarama.
Betapa tidak, jalur yang harus ditempuh sangat terjal dengan kemiringan antara 70 sampai 80 derajat. Semakin menapak persis di bawah Makutarama, kemiringannya lebih ekstrim. Yakni berkisar antara 85 sampai 90 derajat.
Tim ekspedisi Samala melewati susunan batu semacam tangga purba untuk mengakses Makutarama. Jalur tersebut merupakan jalur pendakian purba yang digunakan para peziarah di zaman dulu kala. Bukti susunan batu sebagai tangga purba masih sangat tampak. Yakni terdiri dari susunan lempengan batu dan batu krakal. Bagai tanpa perekat khusus, susunan bebatuan itu masih keras di atas permukaan tanah yang lembur.
Di ‘pintu gerbang’ Makutarama itu, setiap pendaki bagai disapa lima arca. Letaknya dibibir teras sekaligus ‘gapura’ masuk. Lima arca  yang umumnya berbentuk seperti arca togog itu terletak ditepi jalur pendakian.  Di Makutarama terletak candi khas gunung. Yakni berupa punden berundak berteras.  Peninggalan terasnya masih tampak sebagai permukaan bidang tanah yang datar. Dari atas ketinggian inilah pendaki bisa menyaksikan gemerlapnya lampu Malang hingga Pasuruan. Dari Makutarama, pendaki menyaksikan indahnya sunrise di Gunung Arjuno.
Makutarama memiliki pondok peziarah yang khas. Yakni berupa  bangunan segitiga terbalik beratap sekaligus dinding rumput. Lantai tempat tidur juga berbahan rerumputan. Karena bangunannya berbungkus rumput kering, maka suhu di dalamnya terasa lebih hangat. Lalu bagaimana tinggalan sejarah di Makutarama? Ikut penelusuran Tim Ekspedisi Samala di Gunung Arjuno. (van/han/bersambung)

Please publish modules in offcanvas position.