Pelataran Museum Fatahillah selalu ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai kawasan. (Ira Ravika/Malang Post)

JAKARTA tak hanya identik dengan bangunan megah pencakar langit, pusat perbelanjaan dan kemacetan arus lalu lintas. Ibu kota menyimpan sederet wisata historis. Salah satunya Kota Tua Jakarta. Explore kawasan wisata Kota Tua bagai memulai perjalanan kembali ke masa lalu. Malang Post mencoba masuk dalam ‘lorong waktu’ Batavia itu.
Berada di kawasan Kota Tua serasa mengunjungi sebuah kawasan masa lampau Indonesia yang dipengaruhi banyak ornamen dan arsitektur peninggalan jajahan Belanda. Benar saja, kawasan yang dulu bernama Batavia Lama itu memiliki kurang lebih 250 bangunan tua khas Eropa.
Memasuki areal Kota Tua, kami langsung disuguhkan megahnya Museum Bank Indonesia yang menurut informasi dibangun tahun 1828. Di museum ini tersimpan banyak benda dan dokumen bersejarah berkaitan dengan Bank Indonesia di masa lampau yang dulu bernama De Javasche Bank (DJB).
Dari situ lalu menuju pelataran yang paling digemari di Kota Tua. Yaitu areal Museum Fatahillah yang dulunya disebut sebagai Taman Balaikota atau staduhuisplein, pusat kota Batavia. Pada era kekuasaan VOC, bangunan ini merupakan balaikota, ruang pengadilan, dan penjara bawah tanah.
Untuk mencapainya, hanya perlu naik TranJakarta jurusan Kota dan berhenti di perhentian terakhir. Kemudian berjalan kaki tak sampai 10 menit dari halte TransJakarta ke kawasan Kota Tua dan sampailah di Museum Fatahillah.
Museum ini dikelilingi Museum Seni Rupa, Museum Wayang, Museum Pos dan beberapa kafe khas Jakarta yang sebagian dikunjungi orang asing. Untuk masuk ke Museum Fatahillah, pengunjung dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 5.000. Pertama kali menginjakkan kaki di sini sangat terasa panas udaranya karena museum ini tidak memiliki pendingin ruangan.
Sebelum masuk ke Museum Fatahillah, di bagian luar bangunan museum terdapat lapangan yang disebut Lapangan Fatahillah. Lapangan ini dulu adalah tempat mengeksekusi para tahanan. Hanya saja, saat ini lapangan tersebut sudah menjadi tempat paling populer saat berada di kawasan Kota Tua untuk mengabadikan momen. Pengunjung yang ingin berkeliling bisa  menyewa sepeda onthel khas jaman dulu lengkap dengan pernak-perniknya.



Kemudian masuklah kita ke Museum Fatahillah. Ini merupakan museum terbesar di Jakarta yang memiliki tiga  lantai dan menyimpan sekitar 25.000 koleksi benda bersejarah.  Diantaranya prasasti, meriam, patung dewa-dewi, koleksi mebel antik, gerabah, dan keramik.
Beberapa guide yang stand by kerap kali memberikan keterangan lengkap ketika dibutuhkan oleh pengunjung. Hariawan, warga asli Jakarta, yang sehari-hari menjadi pemandu di museum ini menjelaskan sisi lain Museum  Fatahillah yang tidak banyak tertera.
“Jaman Belanda dulu kadang para tahanan yang telah dinyatakan bersalah dihukum gantung di depan gedung ini. Jadi, balaikota ini dulu sempat jadi tempat hukuman mati dan pembantaian massal,” ungkapnya.
Ia menyebutkan Museum Fatahillah yang menjadi pusat pemerintahan Kota Batavia pada jaman Belanda merupakan saksi bisu dari pemerintahan keji dan brutal. Hari menerangkan, sekitar tahun 1940-an, salah seorang Gubernur Batavia saat itu  memerintahkan untuk membantai orang Tionghoa di depan balaikota ini.
Mereka diikat, duduk bersimpuh di depan balai kota, kemudian dari jendela balai kota, gubernur itu memberi kode untuk melakukan eksekusi. Pembantaian yang dikenal dengan nama ‘Geger Pacinan‘ itu disebabkan oleh isu ekonomi dan politik yang berkembang di Batavia.
“Tempat ini juga menjadi saksi bisu dari penderitaan tawanan di penjara bawah tanah untuk wanita dan laki-laki,” paparnya.
Benar saja, selain dapat melihat berbagai benda bersejarah peninggalan Belanda, terdapat satu sisi museum yang sedikit bikin bulu kuduk merinding. Letaknya di bawah bangunan museum yaitu penjara bawah tanah yang disebutkan. (ica/van)

Halaman 1 dari 108