Mohon Ma'af, website sedang perbaikan.
Dapatkan Update Berita Terbaru di :
        www.malangpost.net

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki wisata pantai dan pulau yang mengagumkan. Dari ujung Sabang hingga Merauke beragam wisata pantai dan pulau tersebar dengan kekhas-annya masing-masing. Salah satunya yang cukup terkenal adalah keindahan Kepulauan Karimun Jawa. Beberapa waktu lalu, Owner Gabs Model Agent, Nanang ‘Tangting’ Inoransyah berpelesir ke pulau yang berada di Provinsi Jawa Tengah tersebut.

Perjalanan bersama rombongan dari PHRI Malang ke Karimun Jawa merupakan perjalanan yang sudah saya nantikan sejak lama. Keinginan untuk berkunjung ke Karimun Jawa sudah terlecut berkat cerita-cerita dari kawan yang sudah lebih dulu ke sana. Karena itu, persiapan demi persiapan pun sudah saya lakukan dengan seksama agar liburan kali ini bisa menjadi momen indah dalam hidup.
Dari Malang, saya dan rombongan berangkat pada tanggal 26 Mei pukul 21.00. Sengaja memilih perjalanan malam agar kami bisa beristirahat sepanjang perjalanan mengingat jarak ke objek wisata cukup jauh dan menguras energi. Perjalanan darat ini memakan waktu yang cukup panjang. Terbukti kami baru tiba di Jepara pada pukul 07.30 keesokan paginya.
Sesampai di Jepara, kami masih harus menempuh perjalanan tambahan dengan menggunakan kapal menuju Karimun Jawa. Namun penyeberangan ini tidak bisa kami lakukan saat itu juga mengingat kami mendapat jadwal sekitar jam 13.00. Tepat pukul 13.00 kami pun menuju Karimun Jawa dengan menggunakan kapal cepat.
Sengaja kami tidak menggunakan kapal ferry agar bisa mempersingkat perjalanan menuju Karimun Jawa. Kalau kapal ferry memakan waktu 5 jam perjalanan, dengan kapal cepat hanya 2,5 jam. Konsekuensinya, tentu saja perjalanan kami dipenuhi dengan adegan mabuk laut. Hehehe… Tak apalah, yang penting kami bisa segera mendekat di salah satu surga dunia milik nusantara itu.
Jam menunjukkan tepat pukul 15.30 saat kami tiba di Karimun Jawa. Rasa lelah yang luar biasa akibat perjalanan laut terbayarkan sudah. Sejauh mata memandang, yang kami lihat adalah kejernihan laut biru yang penuh pesona. Kedatangan kami ini disambut oleh gerbang besar dengan tulisan ‘Selamat Datang di Karimun Jawa’.
Beserta rombongan, kami langsung njujug ke penginapan. Jangan membayangkan di Karimun Jawa ada hotel bintang lima yang mewah dan fasilitas komplit. Di sini, penginapan yang tersedia hanya berupa home stay, yakni rumah penduduk yang disulap untuk menerima para wisatawan domestik maupun mancanegara.
Satu jam kami berbenah sembari mengistirahatkan diri kemudian acara langsung dilanjutkan eksplorasi ke salah satu pulau di gugusan Karimun Jawa. Tujuan kami kala itu adalah Tanjung Gelam. Perjalanan dari Pulau Karimun Jawa menuju Tanjung Gelam sekitar serengah jam dengan menggunakan perahu kecil.
Tanjung Gelam merupakan spot terbaik di Karimun Jawa untuk menikmati sunset. Kedatangan kami pukul 17.00 di pulau tersebut tentu saja merupakan waktu terbaik. Langit senja berwarna jingga menyapa kedatangan kami di Tanjung Gelam. Kilau pasir putih yang tertimpa cahaya jingga menambah keindahan pemandangan di sekitar.
Saya sendiri tak mau terlena dan hanya menikmati pemandangan tersebut. Berbekal kemampuan berenang, saya langsung nyebur ke dalam air dan melakukan snorkeling. Barisan terumbu karang cantik yang digoda dengan tarian-tarian ikan warna-warni di dalam laut Karimun Jawa membuat saya semakin bersyukur telah menjadi salah satu bagian dari Bumi Indonesia. Kalau boleh meminta, saat itu saya tak ingin matahari cepat-cepat tidur dan diganti oleh bulan. Sungguh, keindahannya membuat saya terlena. (*/nda)

Makan Malam di Tengah Lapangan
Usai menikmati kecantikan senja, pantai, laut dan seluruh isinya di Tanjung Gelam, saya dan rombongan beranjak pulang ke Karimun Jawa. Pulau ini merupakan sentral dari gugusan kepulayan yang berada di utara Pulau Jawa tersebut. Semua aktivitas penduduk terpusat di pulau ini, mulai dari pendidikan, bisnis hingga hiburan.
Pusat dari segala aktivitas penduduk Karimun Jawa ini adalah alun-alun. Ada yang menyebutnya lapangan aula Karimun Jawa, namun saya lebih senang menyebutnya alun-alun. Di sini merupakan tempat berkumpulnya semua orang yang ada di Karimun Jawa. Entah itu penduduk atau wisatawan seperti saya dan teman-teman. Di sinilah kami menikmati hiburan lokal dengan segala macam kekhas-annya.
Alun-alun Karimun Jawa ini dipenudi dengan pedagang kaki lima. Ada yang menjual makanan ada juga yang menjual souvenir untuk para wisatawan. Saya sangat menikmati momen ini karena kami semua tanpa dikomando, menikmati makan malam bersama-sama di tengah lapangan. Yang membuat momen ini semakin indah adalah, acara makan malam yang sederhana ini diterangi dengan lampu-lampu tenaga surya.
Oh iya, sekadar berbagi informasi, di Karimun Jawa ini sudah banyak menggunakan listrik tenaga surya. Karena itulah, saat matahari bersinar terik, listrik tidak boleh dinyalakan. Semua harus mati, termasuk televisi, kulkas dan AC. Listrik boleh menyala mulai pukul 18.00 hingga pagi tiba. Jika Anda ingin mengisi ulang baterai handphone, maka hanya bisa dilakukan pada malam hari. Tak heran di malam hari, yang namanya colokan listrik di penginapan laris manis. (*/nda)

Berenang Ditemani Ikan Hiu Cantik
Hari kedua, perjalanan kami kembali dilanjutkan dengan eksplorasi pulau-pulau yang berada di gugusan Karimun Jawa. Tujuan pertama yang kami lakukan adalah ke Pulau Menjangan Besar. Jaraknya sekitar satu jam dari pulau utama. Di sini kami snorkeling sebentar sembari melihat penangkaran hiu.
Sama seperti snorkeling di Tanjung Gelam, di Menjangan juga dipenuhi dengan batu karang yang cantik dan ikan warna-warni. Laut biru dan pasir putih sudah menjadi ‘makanan’ kami selama di gugusan Karimun Jawa. Pemandangan yang indah ini membuat kami lupa akan semua masalah yang tengah menanti. Sungguh indah luar biasa ciptaan Illahi. Bahkan keindahan alam di Karimun Jawa ini tak kalah dengan yang ada di luar negeri.
Di penangkaran hiu Pulau Menjangan, wisatawan tidak hanya melihat ikan hiu berlenggak-lenggok di dalam air. Tetapi juga bisa berenang bersama. Kesempatan emas ini tak saya sia-siakan. Mumpung hiunya kecil dan tidak ganas seperti yang ada di laut lepas, saya pun ikut nyemplung dan berenang bersama mereka.
Berenang bersama hiu, meski sudah jinak, tentu saja ada sensasi berbeda. Rasa dag-dig-dug tetap ada walapun oleh petugas penangkaran sudah dijamin keselamatannya. Tak mau rugi, saya pun mengabadikan momen ini. Kapan lagi bisa narsis ditemani dengan hiu-hiu cantik. Hehehe…
Sayangnya momen bersama ikan hiu ini harus diakhiri. Lagi-lagi senjalah yang memisahkan pengalaman istimewa tersebut. Kami pun kembali ke pulau utama untuk beristirahat, mengingat keesokan harinya kami harus pulang dan kembali ke Malang tercinta. (*/nda)

Sebal dan Kecewa Ditinggal Kapal

Berwisata ke Karimun Jawa sebaiknya Anda harus menyiapkan uang saku ekstra. Sebab, terkadang ada hal-hal di luar planning yang tiba-tiba terjadi. Seperti pengalaman saya bersama rombongan PHRI saat bertandang ke sana.
Hari ketiga, sebenarnya merupakan jadwal kami untuk kembali ke Jepara dan melanjutkan perjalanan pulang ke Malang. Sesuai jadwal, kami seharusnya bertolak dari pelabuhan ke Pulau Jawa pada jam 09.00. Agar tak terlambat, pukul 06.30 kami semua sudah bersiap dan stanby di dermaga. Namun yang terjadi, ternyata rombongan kami sudah ditinggal kapal. Alasannya karena saat itu kapal sudah penuh.
Bukan main kecewanya kami saat itu. Sebab di Karimun Jawa tidak ada penyeberangan kedua, ketiga dan seterusnya. Satu hari hanya ada satu penyeberangan. Itu berarti, kami harus stay satu hari lagi di pulau ini. Dengan perbekalan yang semakin menipis, saya dan rombongan haru rela menginap satu malam.
Kondisi ini tidak hanya dialami oleh rombongan kami. Ada rombongan lain dari Jakarta dan kota lain yang harus tertahan satu hari lagi di Karimun Jawa. Tentu saja mereka lebih merugi sebab harus kehilangan tiket pesawat yang sudah dipesan sebelumnya. Dan ini sudah sangat sering terjadi di objek wisata kebanggaan masyarakat Jawa Tengah tersebut.
Semoga saja kejadian ini bisa segera mendapat perhatian pemerintah setempat. Syukur-syukur segara ada jalan keluar agar tidak merugikan wisatawan. Sebab bagaimanapun juga, wisatawan yang datang ke Karimun Jawa merupakan media promosi yang efektif. Jika mereka membagikan pengalaman yang bagus, tentu akan semakin banyak mengundang wisatawan lain untuk berbondong-bondong datang. Begitu juga sebaliknya. (*/nda)

Please publish modules in offcanvas position.