Sering Main PS Bareng Ayah, Ciptakan Game dari Hasil Angpau

CEO Touchten, Anton Soeharyo, sukses mengembangkan game garapannya dari pemberian angpau sang ayah, Rudy Haryo. Dalam angpau, sang ayah memberikan duit USD 1,000 yang kemudian dibelanjakan Anton untuk sebuah laptop Apple beserta perangkat lunaknya.
"Dia dulu dapat angpau. Dari uang itu mereka bikin game yang pertama dan akhirnya sukses," cerita sang ibunda, Peggy Puger, seperti dilansir CNN Indonesia, Sabtu (19/9).
Game yang pertama dikembangkan lulusan Universitas Waseda, Tokyo, Jepang, ini adalah Sushi Chain. Dalam situs resmi Touchten, permainan Sushi Chain telah diunduh lebih dari 3 juta kali oleh penikmat game di seluruh dunia.
Selain Sushi Chain, Anton bersama dengan adiknya Rokimas Soeharyo dan sepupunya Dede Indrapurna juga telah merancang permainan Infinite Sky yang masuk dalam "Top 10 Rank" di aplikasi iOS App Store di sebanyak 43 negara.
Perusahaan yang didirikan tiga orang ini juga telah sukses mendesain beragam permainan lain seperti Ramen Chain, Cute Kill, Amazing Cupid, dan Teka Teki Saku. Touchten juga pernah bermitra dengan akun humor Dagelan, membuat game Dagelan Cerdas dan Dagelan Cermat. Pada tahun 2015, Touchten berkolaborasi dengan 9GAG permainan Redhead Redemption.
Untuk mengembangkan game ini, ketiganya menempuh studi di tiga negara berbeda benua. Anton lebih dulu menempuh studi di Jepang sementara adiknya segera menyucul di Universitas Michigan, Amerika Serikat. Dede, menempuh studi di Australia.
"Saat kuliah major game, sudah punya cita-cita mempunyai game studio. Jadi bukan mau main game lagi tapi mau ciptakan game sendiri," cerita Peggy.
Menurut Peggy, era digital telah menggiring perubahan di beragam sektor termasuk bisnis. Alhasil, sejak kecil ia mengizinkan sang anak untuk bermain game. Ayah mereka, Rudy Haryo, juga kerap bermain bersama. "Kalau anak tidak boleh main game, saya pikir anak jadi kurang percaya diri dalam pergaulan karena yang lain juga main game," tuturnya.
Kedekatan ayah dan anak ini rupanya menjadi antitesis dari pernyataan motivator Mario Teguh. Mario melalui status di laman resmi Facebook miliknya, melontarkan sindirian kepada para ayah yang lebih memilih bermain video game di hadapan bayi mereka. Menurut Mario, tindakan tersebut justru memancing sang anak menjadi sosok yang malas belajar karena video games.
Tak sepakat, Anton menyindir sang motivator. “Saya hilang hormat pada bapak Mario Teguh, saya akan berhenti menfollow dan mengikuti Bapak Mario lagi setelah cara bapak mencari follower dengan cara mengumpulkan hater seperti ini,” tulis status Anton Soeharyo, CEO perusahaan pengembang game Touchten, mengomentari pendapat Mario Teguh.
Anton sendiri kerap menghabiskan waktu bersama sang ayah, untuk bermain Play Station (PS) sejak kecil. "Pengaruh main game adalah dari ayahnya yang suka main game bersama anak-anak sejak SD. Waktu itu main di PS 2, trus ganti PS 3, PS 4, dan seterusnya," kata Peggy.
Setiap pulang sekolah, ketika hari beranjak malam, sang ayah menemani Anton dan adiknya, Rokimas Seoharyo, bermain game. Mereka pun kerap membuat sebuah kompetisi untuk menentukan siapa pemenangnya.
"Kalau ada yang kalah, mereka kadang diskusi tentang strategi main game. Mereka analisis," kata Peggy bercerita.
Membiarkan anak-anak bermain game, menurut Peggy, bukan berarti melepaskan tanggung jawab mereka sebagai siswa. Sang ibu bertugas sebagai pengawas apakah anak-anak mereka sudah selesai mengerjakan tugas dari sekolah. Pun, dengan ujian sekolah kedua anak ini.
Jika Anton dan Roki berhasil menunjukkan keunggulannya di sekolah, sang ibu baru memberi izin keduanya untuk bermain game. "Kalau ulangannya bagus, PR (pekerjaan rumah) sudah selesai, boleh main game dua jam sebelum jam 21.00 WIB. Mereka harus utamakan sekolah dulu baru main game," kata Peggy.
Saat akhir pekan, Anton dan Roki diberi kebebasan yang sedikit longgar di banding hari lainnya. Keduanya pun biasa menghabiskan waktu dengan main game saat siang hari. Sebagai orang tua, Peggy dan Rudy berpendapat, anak-anaknya perlu mengikuti perkembangan teknologi termasuk game. "Kalau anak tidak boleh main game, saya pikir anak jadi kurang percaya diri dalam pergaulan karena yang lain juga main game," tuturnya.(cnn/han)