XL Serius Garap Pasar Premium

Sumbang Revenue Tertinggi, Omzet Rp 14 M Per Hari 
Perebutan pangsa pasar premium di antara operator seluler, di tengah lesunya perekonomian kian menajam. Seperti yang dilakukan PT XL Axiata Tbk., operator seluler XL terus melakukan branding image untuk mengejar ketertinggalannya.
Vice President XL East Region Deasy Sari Dewi menyampaikan hal tersebut kepada Malang Post di ruang kerjanya. Berikut petikan wawancara wartawan Malang Post Hary Santoso dengan Deasy.
 
Sepanjang 2015 XL begitu getol menggelar berbagai event, ada apa?
Benar. Benar sekali, selama 2015 ini kami (XL) begitu banyak mengeluarkan produk. Semua tentu ada alasannya. Tujuan utamanya, kami ingin mengangkat kelas XL menjadi kelas premium.
 
Memangnya, selama ini posisi XL ada di mana?
PT XL Axiata dengan produk XL dan Axis, dua-duanya hanya menggarap pasar menengah ke bawah.  Kelas yang di bawah digarap Axis, sedang XL main di kelas atasnya. Sementara ‘tetangga ‘ sebelah main di kelas premium tanpa ada lawan. Padahal pasar premium cukup besar dan bisa direbut.
 
Seberapa besar kuantitas pasar premium sekarang ini?
Lumayan besar. Bahkan terlalu besar. Hebatnya lagi, pasar premium ini tidak akan terpengaruh kondisi ekonomi apa pun. Ekonomi baik tetap asyik, ekonomi lesu masih asyik juga. Makanya, akhir-akhir ini XL berusaha menata jalan masuk ke pasar premium. Selain itu, infrastruktur penunjang kami sempurnakan. Misalnya, untuk fasilitas 4G yang akan menjadi kebutuhan masa depan.
 
Pasar premium mana kah yang jadi prioritas XL untuk digarap?
OKB (Orang Kaya Baru). Itu yang paling utama. Dalam strata kenaikan status, OKB mayoritas dimiliki orang-orang ekonomi kuat. Misalnya, kalangan enterprenuer muda, orang yang jabatannya baru naik dan masih banyak lagi. Mereka ini, tidak pernah berhitung mengeluarkan uang atau belanja untuk memenuhi ‘libidonya’.  
 
Selain itu, pasar premium mana lagi yang menjanjikan?
Corporate, komunitas dan pemerintahan. Secara teknis memang sulit diterjemahkan, bagaimana cara menggarap pasar ini. Sekadar contoh, di Kota Malang kami sedang menggarap komunitas atau paguyuban angkutan kota. Mereka kami tawarkan satu software (aplikasi) khusus untuk anggotanya.
 
Cara kerja aplikasi ini?
Hanya dengan menggunakan HP dan nomer XL saja, dari aplikasi itu pemilik lyn (angkot) bisa tahu posisi sopir dan angkotnya sedang dimana. Cara ini, seperti yang kita luncurkan di NTB dengan progam M-fish. Progam khusus untuk para nelayan.
 
Paguyuban angkot mana saja yang sudah dipenetrasi?
Saya belum bisa menyebutkan. Nanti kalau sudah launching. Dari contoh progam ini, revenue yang kami dapat dalam jangka panjang cukup bagus. Enaknya lagi, cost yang diperlukan sangat murah. Karena modalnya cuma BTS dan konsumen hanya bermodal HP.
 
Sementara ini, berapa besar pasar premium yang sudah dikuasi, khusus untuk east region?
Data internal kami menunjukkan dari sekitar 10 juta pelanggan XL, 30 persen kelas premium dan 70 persen kelas menengah bawah. Meski begitu, 30 persen kelas premium tadi memberi sumbangan revenue (pendapatan) 70 persen dari total omzet. Saat ini, omzet penjualan XL east region mencapai Rp 14 miliar per hari. Tahun 2016, target omzet harian naik antara 15 sampai 20 persen.
 
Bagi XL bagaimana peluang merebut pasar di 2016 nanti?
Sekali lagi, pasar masih cukup besar. Hasil riset dan survey menunjukkan, belanja komunikasi masyarakat rata-rata masih Rp 100 ribu per bulan. Angka ini jauh lebih kecil dibanding belanja komunikasi masyarakat di luar negeri. Dari total penghasilannya, masyarakat luar negeri 10 persen dialokasikan atau diserap untuk kebutuhan komunikasi. (has/han)