Lima Tahun Mendatang, Smartphone Menghilang

Raksasa teknologi asal Swedia, Ericsson melalui ConsumerLab memprediksiskan dalam 5 tahun kedepan, smartphone akan menjadi barang dari masa lalu. ConsumerLab perusahaan menanyai lebih dari 100.000 pelanggan di tech-savvy Swedia serta 39 negara lainnya tentang pendapat mereka dan keinginan teknologi untuk masa depan. statistik dari penelitian tersebut dapat mewakili 1,1 miliar orang di seluruh dunia.
Setengah dari seluruh pengguna smartphone berpikir bahwa 5 tahun yang akan datang, smartphone akan menjadi suatu barang yang tak terpakai, seiring dengan berkembanganya teknologi kecerdasan buatan (Artificial intelligence) yang memungkinkan seseorang dapat berinteraksi dengan objek tanpa harus menggunakan layar smartphone ataupun tablet.
“Sebuah smartphone di tangan, itu benar-benar tidak praktis. Misalnya, ketika seseorang mengendarai mobil atau memasak. Dan ada banyak situasi di mana layar yang tidak begitu baik. Oleh karena itu, satu dari dua berpikir bahwa smartphone akan menjadi barang kuno dalam waktu lima tahun,” kata Rebecka Cedering Angstrom dari Ericsson ConsumerLab.
Sedangkan tren konsumen yang dirilis Ericsson pada laporan “10 hot consumer trends” pada tahun 2016 lainnya sebagai berikut:
Sharing (berbagi). 4 dari 5 orang telah mengalami etika berlebihan ketika berbagi momen atau sharing di sosial media. 1 dari 3 orang di seluruh dunia telah sharing  kamar, mobil atau sepeda mereka dengan orang lain.
Ketagihan streaming. Kelompok usia remaja lebih sering menonton streaming video dari YouTube ketimbang kelompok usia lainnya. 46% remaja di usia 16-19 tahun setidaknya telah menonton 1 jam video dari YouTube setiap hari.
Akhir dari layar smartphone. Berkembangnya teknologi kecerdasan buatan akan membuat perangkat dapat terhubung dengan objek lain tanpa harus menggunakan layar smartphone. 50% pengguna smartphone setuju bahwa dalam 5 tahun kedepan smartphone akan menghilang.
Dunia maya akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menggunakan headset seperti perangkat VR yang dapat merasakan kita seolah-olah sedang menonton pertandingan sepak bola secara langsung dan panggilan video seolah-olah kita saling berhadapan dengan lawan bicara.
Rumah pintar. 55% pengguna smartphone merasa rumah akan mendapatkan sensor yang dapat melaporkan kebocoran atap atau pralon, jamur dan masalah listrik dalam 5 tahun ke depan.
Komuter cerdas. Komuter ingin lebih mengefisienkan waktu mereka saat bepergian dan itulah sebabnya layanan harus beradaptasi dengan kebutuhan pribadi komuter (informasi wisata pembaruan berdasarkan informasi perjalanan pribadi, personalisasi pilihan pembayaran dan sebagainya).
Chatting darurat. Kebanyakan orang saat ini lebih memilih sosial media untuk menghubungi nomor darurat pada saat keadaan genting atau darurat. 6 dari 10 orang tertarik untuk mendapatkan aplikasi yang dapat memberikan informasi selama masa krisis, seperti Facebook “pemeriksaan keamanan” selama serangan teror di Paris.
Sensor tubuh. Sensor internal atau implan yang dapat melacak dan mengukur kondisi fisik kita, itu adalah gadget masa depan. 8 dari 10 orang bersedia untuk menggunakan teknologi yang memperkuat indra mereka (penglihatan, memori, pendengaran).
Hacking dan virus merupakan kekhawatiran yang meningkat. Satu dari lima pengguna smartphone lebih percaya kepada perusahaan ketimbang mengambil risiko berhadapan dengan virus atau malware.
Kekuatan konsumen. Konsumen berbagi informasi lebih banyak dari sebelumnya dan percaya bahwa mereka dapat berdampak pada masyarakat seperti itu. Lebih dari 1 dari 3 responden percaya itu lebih efisien untuk melawan sebuah perusahaan yang korup secara online daripada melapor ke polisi.
“Beberapa dari tren ini mungkin tampak terlalu mengada-ada sekarang, tapi minat konsumen dalam teknologi baru dan jaringan cerdas terus tumbuh. Oleh karena itu, perusahaan dapat bekerja pada produk baru, yang merupakan evolusi yang dapat mengubah seluruh industri dan menciptakan model bisnis baru “, kata CEO Ericsson Benelux ‘, Saskia Van Uffelen yang dikutip dari Retail Detail, Selasa (08/12/2015).(crt/han)