Kamera Poket Kemampuan Besar

Meski baru Februari tersedia di toko retail, Canon PowerShot G5 X dan G9 X resmi dikenalkan ke publik Indonesia. Spesifikasi keduanya tidak ada perbedaan mencolok selain body G5 X yang lebih bongsor, maskulin dan kokoh. Sementara G9 X ramping dan mungil, sangat cocok bagi perempuan yang mobile namun tetap menginginkan keindahan foto maksimal.
Seperti dilansir detikINET yang mencoba keduanya usai peluncuran di Bandung, Senin (15/12) malam, langsung kepincut. Terutama soal fitur layar sentuh LCD yang membuat operasional keduanya sangat mudah meski disetel pada mode manual sekalipun.
Selain itu, prosesor dan ketajaman lensa G5 X dan G9 X mampu unjuk gigi untuk foto malam atau kondisi low light. Saat dicoba di ISO tertinggi yakni ISO 12800, noise/grain yang dihasilkan tidak terlalu mencolok.
Desain G5 X sangat nyaman untuk kelas entry level dan prosumer. G5 X terlihat kokoh dengan desain siku dan tonjolan lampu flash di bagian kepala. Itu belum termasuk electronic viewfinder yang agak menjorok ke belakang sehingga pipi fotografer tidak akan menempel di LCD saat mengintip di viewfinder.
Selain itu, tonjolan di sisi kanan atas membuat pegangan jempol lebih akurat mencengkeram kamera. Lempengan karet semakin menyempurnakan desain yang ergonomis, nyaman, luwes dan fungsional saat mengoperasionalkan kamera.
Bagaimana dengan G9 X? Dengan segmen untuk kamera poket, desain kamera yang dibandrol harga Rp 5 jutaan tersebut sangat fashionable. Tentu tanpa menghilangkan unsur kamera yang ringkas dan operasional yang mudah.
"G5 X itu lebih kekar, macho. Kalau G5 X menyasar ke perempuan. Bodynya kecil biar masyk ke tas perempuan," kata Marketing Manager Image Communications Product PT Datascrip Angelie Ivone.
Lensa G5 X punya focal length yang equivalen dengan 24-100mm dan maksimal aperture pada f/1,8. Sementara G9 X 28-84mm eq dengan diafragma terbesar di f/2.0.
Pilihan lensa dengan jarak pandang terlebar di 24mm dan 28mm membuat G5 X-G9 X sangat menyenangkan untuk foto outdoor, traveling maupun mendokumentasikan kegiatan ramai-ramai. Sementara untuk focal lenght 84mm dan 100mm sangat cocok untuk foto portrait hingga close up.
Sebagai catatan, bilangan lensa 24mm, 28mm, 84mm (atau 70mm/85mm) dan 100mm merupakan favorit pada fotografer profesional. Focal lenght tersebut sangat cocok untuk aktivitas indoor maupun outdoor dengan maksimal.
Kekuatan lensa pada aperture f/1,8 dan f/2.0 membantu G5 X -G9 X membaca subjek foto pada kondisi low light. Sekaligus, kalaupun cahaya normal, menghasilkan efek bokeh yang sangat menyenangkan.
Oh iya, depth of field (ruang tajam) yang dihasilkan kedua lensa tersebut patut diandalkan tanpa harus kesulitan memfokuskan pada subjek yang kecil sekalipun.
"Ini karena lensa dibuat berlapis seperti kamera profesional. Tajam," imbuh Ivone.
Fitur layar sentuh pada LCD kamera G5 X dan G9 X patut diacungi jempol. Sebab, fitur ini sangat user friendly seperti mengoperasionalkan smartphone pada umumnya. Sehingga untuk membuat pilihan mode pemotretan semudah sentuhan jari termasuk untuk memencet shutter dari layar LCD.
Yang patut digarisbawahi, pilihan aperture, ISO dan speed dapat dilakukan di touch screen. Hal ini membuat operasional mode Manual atau Tv/Av sangat mudah dilakukan oleh pemula sekalipun. Apalagi lightmeter terlihat jelas di bagian bawah LCD membuat foto under atau over exposure bisa diantisipasi.
Resolusi 20.2 megapixel dengan ISO mencapai 12800 menjadikan kamera G5 X dan G9 X bisa naik kelas ke level profesional. Kedua tolak ukur tersebut (resolusi dan ISO) menjadi parameter utama dalam dunia fotografi digital.
Semakin tinggi ISO yang ditawarkan, kemungkinan membaca gambar di kondisi low light semakin mudah. Konsekuensinya, ISO tinggi biasanya akan berdampak pada gambar yang grainy (gambar berbintik-bintik kecil mirip pasir jika di-zoom).
Saat PowerShot G9 X dicoba pada ISO 3200, hasilnya masih memuaskan. Tidak ada efek grainy yang menonjol sehingga foto masih nyaman dilihat. Sementara saat dicoba pada level 12800, efek grainy sudah terlihat namun 'bintik-bintik pasirnya' masih bisa ditoleransi. (dtc/feb)