Bisnis Konten Mulai Membaik

JAKARTA - Aturan mengenai SMS Premium yang akan memayungi bisnis konten saat ini masih belum rampung digarap Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Namun di sisi lain, Telkomsel menilai bisnis konten tersebut mulai menampakkan kenaikan.
Project Director of Services, Content, Applications and Portal, Task Force Team Telkomsel, Gideon Edie Purnomo mengatakan kenaikan tersebut tidak signifikan. Pasalnya, saat ini masyarakat masih menunggu munculnya konten yang aman dan sesuai regulasi.
Sementara itu, masyarakat juga tidak berhenti mengonsumsi konten. Konsumsi itu terutama pada konten-konten yang netral seperti bola atau religi. "Yang agak surut itu selebriti karena dulu konten seperti itu sering disalahgunakan," ujarnya di sela peluncuran aplikasi Barclays Premier League Telkomsel, beberapa waktu lalu.
Soal Value Added Service (VAS) berupa konten ini juga mengalami pergeseran komposisi ke arah konten yang menyesuaikan request pelanggan. "Paling banyak bergeser ke konten-konten yang di-request pelanggan, kalau dulu banyak yang push atau kita tawarkan," pungkasnya.
Menilik pada kembalinya pertumbuhan bisnis konten tersebut, Telkomsel mengatakan berupaya memberi jaminan kepada masyarakat agar kembali percaya. "Pada saat proses mendapatkan itu (konten), Prosesnya benar-benar transparan jadi tidak ada yang dirugikan. Kalau minta bola, kami kasih bola. Ada konfirmasi yang kami lakukan untuk memastikan konten sesuai yang diminta," ujar Gideon.
"Kemudian proses berhenti berlangganannya kami pastikan mudah dan cepat. Di sistem, ketika ada request berhenti pun harus segera diproses. Selain itu juga ada konfirmasi berhenti berlangganan," imbuhnya.
Sementara itu, aturan mengenai SMS Premium yang akan digunakan untuk membenahi industri konten akan menyorot beberapa aspek. Juru bicara Kominfo Gatot S Dewa Broto mengatakan sorotan tersebut adalah pada aspek perlindungan konsumen, kontrol kerjasama antara Content Provider (CP) dengan operator dan upaya untuk menghapus ketidakpercayaan antara pelanggan ke CP, operator atau sebaliknya.
Anggota BRTI Nonot Harsono mengatakan, Revisi Permen No 1 Tahun 2009 soal SMS Premium itu, nantinya hanya mengatur bentuk transaksi penjualan dan pembelian konten premium yang pembayarannya dalam bentuk pemotongan pulsa konsumen saja. “Sedangkan untuk konsumen yang menggunakan kartu kredit, cloud dan lainnya masih akan di bahas lebih lanjut,” ujarnya. (oke/nda)