Headset Turunkan Fungsi Pendengaran

HEADSET menjadi perangkat paling fungsional ketika ingin mendengarkan musik tanpa mengganggu lingkungan sekitar. Di kalangan anak muda, penggunaan headset terlihat semakin meningkat. Hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya anak-anak muda yang berlalu lalang dengan headset terpasang di telinga.
Namun penggunaan alat bantu dengar ini harus tahu batasan, pemakaian secara terus menerus akan beresiko merusak pendengaran. Ada baiknya jika musik diputar secara normal saja tanpa menggunakan headset atau earphone.
Seperti yang dikatakan dokter THT RSI Aisyiyah, dr. Marditomo, SpTHT, jika seseorang mendengarkan suara di atas 30 desibel dan di atas waktu 10 jam, maka dalam 10 tahun saraf telinga akan rusak dan bisa mengganggu pendengaran.
“Rusaknya saraf tersebut bisa berupa tidak bisa mendengar apa-apa, atau bisa juga telinga akan beradaptasi dengan suara keras,” jelasnya kepada Malang Post.
Dokter Marditomo menambahkan, jika belum lama telinga masih bisa refersible atau kembali normal. Tetapi kalau sudah lama akan sangat sulit bagi telinga bisa mendengar secara normal seperti semula. Keseringan memakai headset tak hanya menurunkan fungsi pendengaran saja, namun juga bisa menyebabkan tuli dan lainnya.
Tak hanya bisa memecahkan gendang telinga saja, headset maupun earphone juga bisa menyebabkan telinga terasa panas dan berdegup hebat layaknya jantung ketika terkena efek suara keras yang berdentam.
Menurut dokter ramah ini, hal tersebut terjadi karena koklea atau biasanya disebut rumah siput yang sangat berperan penting dalam proses pendengaran mengalami kelelahan. Kelelahan koklea secara terus menerus akan mengakibatkan gangguan pendengaran secara tetap.
“Ketajaman pendengaran juga bisa berkurang jika secara bertahap,” imbuhnya.
Antisipasi yang bisa dilakukan untuk mengurangi bahaya headset ini dengan mengurangi waktu pemakaian headset tersebut. Karena dengan begitu, telinga kembali akan membiasakan diri dengan mendengarkan suara-suara yang normal. Selain itu, pengobatannya dengan cara terapi hiperbalik atau memberi obat-obatan khusus juga bisa dilakukan agar tingkat ketulian yang dialami penderita gangguan berkurang.
“Tetapi segala jenis pengobatan dan terapi yang ada hanya bisa dilakukan pada penderita yang belum terlalu parah sakitnya,” terang laki-laki paruh baya ini.
Jika sakit sudah menyerang sel rambut pada organ telinga bagian dalam, yang berfungsi untuk menangkap frekuensi suara, maka tidak akan bisa kembali normal seperti sedia kalanya.
Maka dari itu, dokter Marditomo memberikan saran ada baiknya jika kalangan anak muda lebih baik menghindari penggunaan headset maupun earphone secara terus menerus, terutama jika berada di keramaian.
Saat berada di keramaian, potensi untuk mengeraskan suara akan lebih besar dan hal itu justru akan meningkatkan resiko seseorang mengalami gangguan pendengaran. “Untuk itu, anak muda yang sering mendengarkan musik saat belajar atau bahkan sedang berkendara lebih baik dikurangi atau tidak perlu dilakukan mulai sekarang,” tandasnya. (ita/fia)