Pacu Adrenalin di Death Space 2

MALANG- Mengekor kesuksesan Death Space pertama, seri kedua game horor tersebut sudah bisa dinikmati gamers melalui smartphone Android. Ceritanya pun masih berkutat soal teror menakutkan alien atau yang disebut Necromorph yang telah menginvansi pesawat antariksa Isihmura. Simak review singkat game horor yang memiliki banyak penggemar ini.
Cerita pada sekuel ini bersetting tiga tahun setelah ending game pertama, yakni ketika Isaac Clarke berhasil lolos dari pesawat antariksa Ishimura dan dia pingsan dalam Pod penyelamat. Saat Isaac terbangun, dia sudah berada disebuah rumah sakit kota metropolis Sprawl di planet Titan dan belum sempat untuk memulihkan ingatannya, sudah terjadi kekacauan besar, di mana Necromorph menyerbu seluruh penghuni rumah sakit.
Dan pada saat itu juga, gamer kembali memerankan Isaac Clarke untuk berusaha meloloskan diri dari serangan Necromorph tanpa dibekali senjata. “Untuk awal permainannya saja sudah sangat mengejutkan dan bisa membuat adrenalin pemain merinding bahkan terus berlanjut di sepanjang permainan,” ungkap Sanda Dani, sales division Global Teleshop Malang Town Square (Matos).
Dalam game ini gamer dapat memilih lima tingkat kesulitan permainan, yakni kasual, normal, survivalist, zealot, hingga Hardcore mode yang akan terbuka jika kita telah berhasil menyelesaikan game ini. Pada Hardcore mode akan menantang pemain untuk merasakan ketakutan yang luar biasa, dengan menghadirkan Necromorph yang jauh lebih lincah dan kuat, suplai amunisi senjata yang sangat terbatas, dan save permainan yang hanya diberikan sebanyak tiga kali saja.
Dengan masih mempertahankan style gameplay seperti game terdahulunya. Di mana kita diharuskan bergerak dari satu point ke point berikutnya sambil berusaha mempertahankan hidup dari serangan brutal Necromorph disepanjang permainan yang juga dihiasi teror horor yang dapat membuat adrenalin pemain meningkat. Dan ini berhasil menciptakan ketakutan dan keasikan tersendiri bagi pemainnya.
“Misalnya saat kita melewati mayat Necromorph yang tergeletak tidak berdaya dan secara tiba-tiba Necromorph tersebut bangkit dan menerkam kita. Benar-benar tak terduga,” sambungnya.
Pada sekuel kedua ini tidak terlihat peningkatan yang cukup drastis dalam hal grafis. Tekstur, efek pencahayaan dan bayangan memang terlihat lebih dinamis dibandingkan sekuel pertama serta animasi karakter terlihat lebih mantap. Disamping dari kemewahan grafis yang telah disebutkan, game ini juga tidak luput dari beberapa kekurangan kecil, tapi hal itu tidak mengurangi penilaian bagus untuk grafis game ini.
Secara overall, skuel kedua dari produsen Visceral berhasil menciptakan atmosfer menyeramkan di sepanjang permainan. Bahkan lebih menyeramkan dari sekuel pertama dan game Resident Evil yang horornya terkesan sangat jarang. (tom/nda)