Lumia Sukses di Pasaran, Tak Berarti Nokia Bangkit

Di ujung tahun 2012 lalu, Nokia menutupnya dengan senyum. Karena melihat grafik penjualan Lumia yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Menurut keterangan Nokia, pada kuartal IV 2012 penjualan yang disebut 'Smart Devices' mampu memberikan pemasukkan hingga USD 1,57 miliar. Dari sekitar 15,9 juta ponsel yang terjual, 6,6 juta di antaranya merupakan smartphone. Bila dikerucutkan lagi, dari total penjualan smartphone sepanjang kuartal keempat lalu tersebut, Lumia berhasil menyumbang 4.4 juta.
Seperti yang dikutip dari The Next Web, Jumat (11/1), jumlah penjualan Lumia tersebut tentu saja mengalami peningkatan dibandingkan dua kuartal sebelumnya. Di kuartal II, Lumia hanya terjual 2,9 juta kemudian kuartal selanjutnya meningkat jadi 4 juta unit.
Namun yang menjadi perhatian adalah, kuartal IV memang triwulan dimana para vendor mampu mengeruk keuntungan yang lebih besar. Pasalnya, di kuartal tersebut libur Natal dan akhir tahun biasanya terjadi peningkatan penjualan signifikan.
Secara kalkulasi dari 15,9 juta ponsel yang terjual di kuartal akhir tahun 2012 lalu terdiri dari, 9,3 juta Asha full touch, 4,4 juta Lumia dan 2,2 juta adalah smartphone Symbian.
Penjualan Nokia Lumia tersebut tercatat telah melebihi target. Nokia pun mengestimasi operasional keuangan mereka bisa impas atau bahkan membukukan sedikit keuntungan. Padahal sebelumnya mereka merugi. Kondisi keuangan Nokia yang lebih baik juga dipicu pendapatan royalti paten sebesar USD 65,2 juta, penghematan ongkos serta performa lumayan baik dari divisi Nokia Siemens Network.
Apakah ini berarti Nokia sudah mulai bangkit dan OS Windows Phone menemukan momentum? Agaknya belum bisa disimpulkan seperti itu, setidaknya untuk saat ini.
"Mereka harus membuktikan lebih banyak lagi sampai Anda bisa mengatakan mereka sudah bangkit. Mereka harus menjual lebih banyak lagi," kata Greger Johansson, analis industri dari Redeye.
"Penjualan 4,4 juta unit Lumia belum bisa menjanjikan sebuah titik balik," kata Mikael Rautanen, analis dari Inderes yang dikutip dari Reuters.
CEO Nokia, Stephen Elop sendiri mengakui Nokia masih menghadapi jalan terjal di masa depan. "Kami terus beroperasi di lingkungan yang sangat kompetitif," katanya. (dtc/nda)