BlackBerry Tak Lagi Seksi

SURAM: Makin banyaknya pengguna BBM lintas platform membuat gadget BlackBerry tak lagi menarik pengguna smartphone.

MALANG -  Masuknya aplikasi BlackBerry Messenger (BBM) pada perangkat android dan iPhone berdampak pada penjualan gadget BlackBerry. Baik di toko modern maupun tradisional, perangkat besutan Research In Motion (RIM) tidak lagi dilirik para konsumen. Sebaliknya, konsumen memilih untuk membeli perangkat android atau iPhone.
Di Erafone, contohnya sejak resmi aplikasi BBM bisa didownload melalui perangkat  android, penjualan BlackBerry langsung menurun drastis. "Dulu rata-rata kami bisa menjual 5-7 unit setiap hari all tipe, tapi sekarang satu unit laku itu sudah lumayan," kata Customer Service Erafone, Ivan Catur, yang mengatakan sejak awal Oktober hingga kemarin (26/10) hanya 14 unit BlackBerry saja yang terjual. Sedangkan pada bulan September lalu, penjualan BlackBerry mencapai 29 unit, dan bulan sebelumnya sebanyak 34 unit.
Ivan menuturkan, penurunan penjualan BlackBerry sudah terlihat sejak dua bulan terakhir. Tidak hanya aplikasi BBM lintas platform saja yang menjadi alasan penjualan perangkat BlackBerry turun, namun maraknya gadget berbasis android  juga menjadi salah satu alasan BlackBerry mulai ditinggalkan.
“Konsumen lebih memilih android karena memiliki spesifikasi yang lebih lengkap dibanding BlackBerry," kata Ivan yang mengatakan, dengan harga Rp 1.5 juta, konsumen sudah bisa memiliki perangkat android yang memiliki spesifikasi handal.
Sementara di Global Teleshop MOG, menurunnya penjualan BlackBerry terlihat sejak Agustus lalu. Hal ini dikatakan oleh team leader Global Teleshop MOG. Agustus lalu BlackBerry laku 139 unit, sedangkan di September hanya terjual 95 unit. Dan sejak awal Oktober hingga sekarang penjualan BlackBerry tidak mencapai 70 unit.
Ponsel yang populer dengan keypad qwerty tersebut tidak lagi 'bertaring' seiring masuknya aplikasi BBM pada android dan iPhone. Terlebih saat ini, tidak ada promo untuk pembelian  sehingga BlackBerry semakin kurang menarik.
Kendati BlackBerry tak terlalu menarik, namun Global Teleshop tetap menawarkan varian ponsel kantoran tersebut. “Tetap ditawarkan dengan menjelaskan berbagai kelebihan masing-masing perangkat. Selanjutnya, konsumenlah yang memilih," ucapnya.
Sementara di sejumlah toko tradisional terlihat kondisi yang sama. Smartphone tersebut tidak banyak dilirik konsumen. Bahkan pemilik toko tradisional juga memilih untuk tidak menyetok perangkat BlackBerry dalam jumlah banyak. Berbeda dengan dua tahun yang lalu, saat BlackBerry booming para pemilik toko menyetok gadget besutan developer berbasis di Kanada tersebut dengan jumlah banyak.
"Kita nunggu perkembangan juga, sementara ini belum berani nyetok banyak, tapi kalau ada user yang memesan tipe tertentu, kami bisa langsung order," kata Pemilik Karna Jaya Cell Badri.
Sementara di sejumlah outlet penjualan ponsel second, kondisi yang sama juga terlihat. Banyak perangkat BlackBerry yang hanya menjadi pajangan di etalase masing-masing outlet. Bukan itu saja, harga BlackBerry juga 'hancur'. Sebut saja tipe 9780 (Onyx 2), hanya dijual dengan harga Rp 1.5 juta. Padahal ponsel yang memiliki sejumlah kelebihan ini harga barunya hampir mencapai Rp 4 jutaan.
Tidak hanya itu, turunnya harga second juga terjadi pada penjualan BlackBerry 10. "Hancur sekarang harganya, gara-gara kena lintas platform," kata Edy Purwanto pemilik NFC Cell Malang Plaza. Edy juga meyakini, kondisi ini akan berlanjut, seiring maraknya pengguna android mendownload aplikasi BBM tersebut.(vik/fia)