Mitos Seputar Android

SERING hang, banyak virus, sulit dioperasikan, merupakan salah hal yang ditakuti para calon pengguna Android. Apakah ketakutan itu fakta, atau sekadar mitos belaka? Pertumbuhan Android bukan tanpa tantangan. Sejak kemunculannya, sistem operasi 'robot hijau' ini kerap mendapatkan kritikan dari pesaingnya. Sejumlah teror pun disebarkan.
Pun begitu Android tetap tumbuh. Bahkan menurut catatan IDC hingga saat ini Android sudah mendominasi sistem operasi smartphone dengan pangsa pasar lebih dari 80 persen.
Meski demikian masih banyak mitos-mitos yang masih menghantui para calon pengguna Android, atau bagi yang sudah memiliki ponsel terebut. Berikut adalah sejumlah mitos yang paling sering ditakuti pemiliki Android, yang dirangkum dari Android Authority, Selasa (19/11).

Ribet
Perangkat Android terkenal memiliki antarmuka yang bisa diubah-ubah, tapi terkadang hal itu justru dianggap menyulitkan para pengguna.
Steve Ballmer, CEO Microsoft, bahkan pernah mengkritik tampilan Android yang dianggap membingungkan. Kalah canggih dengan Windows Phone yang mereka banggakan.
"Anda tak perlu menjadi ahli komputer untuk menggunakan Windows Phone, itu hanya untuk pengguna ponsel Android," sindir Ballmer.
Faktanya, tampilan Android kini kian bersahabat. Ditambahkan sudah banyak vendor yang melakukan kostumisasi agar memudahkan navigasi para penggunanya.
Contohnya soal akses cepat ke aplikasi kamera saat ponsel sedang terkunci. HTC Sense termasuk salah satu interface yang pertama kali menyediakan opsi tersebut, kini fungsi itu nyaris bisa ditemui di semua smartphone.

Butuh Task Killer
Untuk menjaga agar performa ponsel tidak menurun maka banyak anggapan bahwa pengguna harus menggunakan task killer pada Android. Itu tidak selamanya benar.
Android sudah mempunyai mekanisme untuk menjaga agar aplikasi yang berjalan di belakang layar bisa beroperasi tanpa mengganggu sistem. Lagi pula Android terkini sudah built-in 'pembersih' memori.
Mitos soal aplikasi task killer yang bisa menghemat baterai juga dianggap tidak benar. Pasalnya, saat berjalan aplikasi tersebut justru termasuk program yang paling banyak mengkonsumsi energi.
Rawan Virus
Virus untuk Android memang benar nyata, ancaman pun sudah ada di depan mata. Tapi ini bukan karena Android mudah diserang, melainkan sudah menjadi sistem operasi smartphone yang paling populer.
Sebenarnya ada beberapa cara agar terhindar dari serangan program jahat di Android, misalnya tidak melakukan instalasi dari sumber yang tidak jelas.

Google sendiri sudah melakukan pengamanan dengan memeriksa izin aplikasi yang ingin diinstal. Di sini tinggal kebijaksanaan pengguna untuk tetap melanjutkan proses instalasi atau tidak.

Semua Android Sama
Banyak anggapan bahwa seluruh ponsel Android itu sama, baik yang di kelas murah hingga yang ada di level premium. Tapi nyatanya tidak demikian. Google telah melakukan optimalisasi agar Android bisa dijalankan di berbagai spesifikasi ponsel, tapi bukan berarti semua fitur yang dijejali sama saja.
Selain fitur yang berbeda, rasa menggunakan Android di tipe yang berbeda sudah pasti tidak sama. Contohnya menggunakan Galaxy Pocket dengan dengan Galaxy S4, pasti berbeda bukan?

Sering Lag dan Crash
Hingga kini ponsel Android dituding sering mengalami masalah, mulai dari yang gejala lag sampai aplikasi yang sering crash. Mungkin itu dulu, tapi sekarang sudah tidak lagi.
Pelan-pelan Google mulai memperbaiki Android, dan versi terkini yakni Jelly Bean sudah banyak berbeda dengan versi sebelumnya. Gejala lag dan aplikasi yang sering crash pun sudah jarang ditemui.
Bahkan kini sebaliknya, menurut laporan Forbes, aplikasi pada iOS 6 terbukti lebih sering crash dibandingkan pada Android Jelly Bean.

Nah, itu adalah secuil mitos yang banyak dikhawatirkan para pengguna Android. Masih adakah mitos yang terlewat? (dtc/fia)