Diburu karena Dianggap Bermakna

MALANG – Meski tren penggunaan nomor telepon saat ini adalah sekali buang, namun faktanya  nomor cantik (nocan) tetap diminati. Banyak user yang tetap memilih nocan untuk telepon selular atau handsetnya. Beberapa diantaranya rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi mendapatkan nocan yang diinginkan. Almas Shafina Maulida salah satunya. Dia merogoh uang Rp 1,5 juta untuk mendapatkan nomor Simpati. “Suka saja karena ada kepuasan tersendiri saat kita memiliki nocan,” kata wanita yang bekerja di salah satu hotel di Malang ini.
Almas mengaku, nocan itu didapat dengan tidak sengaja. Saat itu dia sedang jalan-jalan di Mall, dan melihat ada gerai penjualan perdana ponsel. “Setelah saya lihat, kemudian saya tertarik dengan satu nomor, saat itu juga langsung saya beli,” lanjutnya. Namun begitu, Almas mengatakan ada beberapa temannya yang sengaja memburu nocan hingga keluar kota. Kode wilayah nomor selular sama sekali tidak dipermasalahkan, yang jelas nomor yang dibeli merupakan nomor yang bagus dan sesuai keinginan.
Sementara beberapa penjual kartu perdana mengaku jika hingga saat ini nocan tetap laris manis. Di Savana Cell, Jalan Sigura-Gura Malang contohnya. Outlet yang menyediakan nocan dari berbagai operator ini mengatakan sedikitnya ada 3 nocan yang laku dijual. “Untuk nocan biasanya kami start dengan harga Rp 500.000. Rata-rata setiap hari laku 3 hingga 5 unit,” kata Apriana Wahyu, karyawan Savana Cell.  Namun begitu, nocan sendiri sifatnya tidak melekat. Artinya, nocan menurut masing-masing orang berbeda.
“Bisa jadi, konsumen menganggap nocan yang ditempel di dinding hanya biasa saja, justru membeli nocan yang biasa, karena memiliki history,” urai dia. Usernya lebih banyak memilih nocan yang memang memiliki nilai, seperti tanggal lahir, hari jadian, tanggal pernikahan atau lainnya.  Bahkan, ada juga nocan yang melambangkan momentum sebuah event besar, contohnya HUT Arema. “Untuk HUT Arema kami ada dua, keduanya dari XL. Harganya Rp 1.5 juta masing-masing nomor,” kata wanita berjilbab ini. (vik/mar)