Merger XL-Axis Tunggu KPPU

MALANG – Upaya PT XL Axiata Tbk (XL) melakukan merger dengan PT Axis Telecom Indonesia, tidak semulus yang diharapkan. Pihak XL yang sudah menyiapkan segala hal terkait merger ini belum bisa menikmati frekuensi, lantaran harus menunggu Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Hal ini dikatakan langsung oleh CEO PT XL Axiata Tbk (XL) Hasnul Husaimi. Kepada wartawan, pria yang hadir dalam event XL Future Leader Festival, di Airlangga Convention Center, Sabtu (18/1) lalu ini mengatakan, jika pihaknya harus mematuhi aturan terkait merger ini.
“Kita tunggu keputusan dari KPPU, dan kita tidak mau melanggar,’’ katanya sembari menjelaskan jika KPPU akan membuat keputusan merger tersebut Maret mendatang.
Namun begitu, sembari menunggu keputusan tersebut, Hasnul pun mengatakan jika pihaknya sedang menyiapkan berbagai perangkat. Termasuk jaringan. Artinya, jika KPPU menyetujui merger tersebut, pihaknya pun sudah sangat siap.
“Selain menunggu, kami juga menyiapkan jaringannya, karena ini berkaitan dengan layanan pada pelanggan. Jangan sampai kemudian, keputusannya sudah ada, ternyata kami tidak siap, seiring dan sejalan lah,’’ katanya dengan nada santai.
Hasnul pun menjelaskan panjang lebar terkait merger ini. Dihadapan para wartawan, pria bertubuh kecil ini menceritakan jika proses merger dengan Axis merupakan kisah yang panjang. Diawali dari tahun 2007.  Saat itu XL dikenal sebagai operator yang mahal. Yaitu 1000 per menit. Imbasnya, XL pun mengalami kerugian. Tarif mahal tersebut bukan karena tanpa alasan, sebagai operator yang berada di posisi ke tiga, XL tidak banyak memiliki frekwensi. Beda dengan dua operator kompetitor lainnya, yaitu Telkomsel dan Indosat yang memiliki banyak frekuensi.
Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan tarif. “Saat itu kami membuat program promo tarif Rp 100 per menit untuk menelpon. Betul pelanggan kami naik, traffic kami juga naik, bahkan meski promo laba kami juga naik. Tapi begitu, jaringan kami rusak. Banyak pelanggan kemudian mengeluh dengan kondisi ini,’’ tambah Hasnul.
Hingga akhirnya XL pun memiliki keputusan untuk melakukan merger dengan Axis yang juga memiliki frekwensi hampir sama dengan XL. Dua belah pihak pun saling bicara dan setuju. “Pihak Axis sudah tidak ada kendala. Namun begitu, merger dua perusahaan operator kan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tetap harus ada aturan. Nah aturan ini sedang digodok KPPU, dan kami juga menunggu dan terus berkonsultasi,’’ tambahnya.
Saat ini XL juga telah menyiapkan layanan satu atap untuk XL dan Axis. Layanan satu atap ini tak lain untuk mewadahi para pelanggan Axis, yang ingin melakukan top up atau mengganti kartu perdana. Layanan satu atap ini sendiri digelar di semua XL Center.(vik/fia)