Kenali Rakitan Ponsel Anda

MALANG – Samsung memang berbasis di Korea Selatan, namun begitu produk ponsel yang beredar di pasar Malang Raya ini jarang berasal dari negara asalnya. Sebaliknya, banyak produk yang beredar berasal dari Cina atau Taiwan.
Membawa merek yang sama dengan desain produk yang sama, bukan berarti bagian dalam perangkat ini juga sama. Karyawan Dian Abadi Cell, Blimbing pun menguraikan, perbedaan antara produk Samsung yang di produksi negara Cina dengan Taiwan.
“Umumnya produk Samsung dari Cina menggunakan teknologi perakitan dengan metode soket. Sedangkan produk Samsung produksi Taiwan menggunakan metode jumper,’’ kata pria bertubuh kurus ini. Dua model perakitan itu sebetulnya cukup umum ditemui pada produk elektronik. Tidak terkecuali pada produk ponsel.
“Secara performa tidak ada perbedaan antara perakitan metode jumper ataupun metode soket. Karena hardware yang dipasang di dalamnnya sama. Sehingga saat dilakukan tes pada perangkat pun tidak berbeda,’’ tambah pria yang kerap dipanggil dengan nama Dharma ini.
Dia pun menjelaskan, pengertian metode jumper, merupakan metode dimana setiap komponen di dalam perangkat disambung menggunakan timah (soder). Tentu saja, dengan sistem tempel permanen tersebut, komponen lebih kokoh. Berbeda dengan teknologi soket, yang pemasangan komponen dipasang sesuai slot pada kerangkat, dan dikunci secara manual.
“Umumnya yang menggunakan teknologi jumper memang lebih kuat. Seperti saat ponsel jatuh secara vertikat, minim sekali kerusakan. Berbeda dengan teknologi soket. Jika ponsel jatuh secara vertikal, kerusakan umum adalah speaker, mic, bazzer atau receiver,’’ katanya. Namun begitu, masing-masing komponen bisa langsung diganti persatuan.
Sedangkan kelemahan pada metode jumper adalah, justru pada arus listrik. Metode jumper tidak mengenal pemutus arus otomatis. Sehingga ponsel kerap panas saat sedang di rechager. Dan jika terlalu lama, langsung merusak IC power. Jika itu terjadi jelas, ponsel tidak bisa dihidupkan, hingga IC powernya belum diganti. Namun begitu, selain IC power, kerusakan juga terjadi pada komponen-komponen lainnya.
“Sehingga sudah jelas, teknologi jumper ini lebih ribet dan tentunya biayanya juga lebih besar saat ponsel tersebut rusak atau bermasalah,’’ katanya.
Untuk menghindari permasalahan tersebut, Dharma pun memberikan solusi, yaitu melarang pengguna untuk melakukan recharging ponsel dalam waktu yang lama. “Pengguna juga harus mengawasi, dan mencabut kabel charger jika kondisi ponsel panas,’’ katanya.
Selebihnya untuk performa, Dharma mengatakan tidak ada perbedaan. “Yang kerap saya temui adalah produk Samsung Galaxy Y. Saya sudah membongkar bagian dalam mesinnya, dan melakukan pengecekan satu persatu komponen. Sehingga saya pun tahu kelemahan dan kelebihan masing-masing metode tersebut,’’ tandasnya.(vik/fia)