4G Memikat, 3G Primadona

JAKARTA - Meskipun tak lama lagi layanan 4G berbasis LTE akan segera hadir di Indonesia, namun eksistensi 3G dinilai tak serta-merta tergusur. Bahkan masih tetap akan jadi primadona mobile broadband dalam beberapa tahun mendatang. “Dalam beberapa tahun ke depan, jaringan data berbasis 3G masih akan mendominasi meski LTE telah masuk ke Indonesia nanti,” kata President Director Ericsson Indonesia, Sam Saba di Marche, Jakarta, kemarin.
Hal ini dikarenakan para pengguna seluler masih nyaman menggunakan 3G didukung dengan banyak beredarnya handset dengan harga terjangkau yang masih berbasis 3G di Indonesia.  Kondisi seperti ini ternyata tak hanya berlaku di Indonesia saja. Beberapa negara yang telah menerapkan LTE pun, dikatakan Sam, masih harus melawan pamor 3G dalam hal penggunaan data.
“Jepang, Korea dan negara yang telah mengimplementasikan LTE masih mengelola pelanggan 3G mereka yang masih menjadi mayoritas. Itulah mengapa kebanyakan negara yang menggelar LTE lebih memilih untuk wilayah-wilayah dengan trafik data yang tinggi seperti kota-kota besar dan juga area pusat bisnis, dalam arti jumlahnya masih terbatas,” papar Sam, panggilannya.
Secara global, lanjutnya, pengguna layanan data internet mobile di akhir 2013 mencapai 8 miliar bahkan lima tahun ke depan penambahannya menjadi 9,3 miliar. Wilayah Asia Pasifik termasuk memiliki pertumbuhan cukup cepat dengan jumlah pengguna 1,3 miliar. Vice President Marketing Communication Ericsson Indonesia, Hardyana Shintawati mengatakan 3G sudah banyak digunakan untuk mobile broadband di Indonesia saat ini.
Terlebih, pembangunan jaringan 3G sudah lebih dari separuh pembangunan 2G yang sekarang cuma digunakan operator sebagai penambah kapasitas saja Sibuknya operator untuk meningkatkan jaringan dan kualitas layanan mereka membuat penambahan jumlah pelanggan bukan lagi target nomor satu. Dikatakan Nana - begitu dia biasa disapa- operator telekomunikasi saat ini sudah fokus pada user experience.
“Tren ke depannya memang sudah mengarah ke sana. Operator semakin sering membicarakan mengenai bagaimana meningkatkan pengalaman pengguna. Dari sisi teknologi sudah meningkat, KPI nya pun kini sudah berbeda,” katanya. Meskipun penetrasi pasar seluler di Indonesia mulai melemah, LTE telah diselenggarakan, dan operator berorientasi pada user experience, Indonesia belum bisa dikatagorikan sebagai pasar yang mature.
“Indonesia kalau dikatakan mature market belum, karena katagori ini harus diukur berdasarkan kesiapan infrastruktur, tarif yang terjangkau di semua segmen pengguna, serta level penggunaan ICT di negara tersebut. Biasanya negara dengan kategori mature market memiliki level penggunaan ICT yang lebih sophisticated ketimbang hanya browsing internet dan cek email atau social media,” paparnya.
Meski begitu, data terbaru dari Ericsson menunjukkan bahwa separuh trafik smartphone LTE di dunia terjadi melalui jaringan Ericsson. Bahkan perusahaan ini menduduki posisi pertama sebagai pemimpin pasar LTE di 100 kota besar di dunia.  Di 2014 ini, setidaknya ada lima tren baru yang diprediksi akan muncul di industri mobile broadband menurut Ericsson.
Pertama dorongan terhadap gaya hidup digital, industri yang tengah bertransformasi, data yang menimbulkan model bisnis baru, fokus terhadap pengalaman pelanggan, dan keharusan terhadap kinerja jaringan yang unggul. “Bahkan nantinya diprediksi trafik video mobile akan mencapai lebih dari 75 persen dan secara global kemungkinan throughput mobile data setidaknya mencapai 1 Mbps,” pungkas dia. (dk/mar)