15 Persen Nomor Seluler di Indonesia Hangus

ATSI mengungkapkan 15 persen nomor seluler di Indonesia hangus karena sering pindah layanan.

JAKARTA- Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) mengungkap data bahwa setiap tahunnya di negeri ini ada sekitar 15 persen nomor seluler yang hangus alias churn karena sering berpindah layanan. Estimasi kerugian untuk tiap 50 juta kartu yang hangus mencapai Rp 3 triliun. Nah, untuk menekan persentase churn rate ini, Ketua Umum ATSI, Alexander Rusli mengatakan cara yang paling efektif dan memungkinkan ialah dengan mendukung program registrasi ulang pelanggan prabayar yang akan dimulai jelang akhir tahun nanti.
“Registrasi ulang jika dilakukan bisa menekan churn rate di industri. Sekarang ini churn rate di kisaran 15 persen. Kalau registrasi ulang itu sukses, bisa ditekan separuhnya 7 persen hingga 8 persen,” papar Alex ditemui di sela Indonesia Celullar Show 2014 di Jakarta. Menurutnya, operator sekarang mencari pelanggan yang berkualitas dengan cara terus menggenjot isi ulang dari pelanggan.  “Kita sekarang tidak mencari pelanggan baru. Industri tahun ini tumbuh 6 persen hingga 7 persen, itu datangnya dari reload prabayar,” jelasnya.
Sementara menurut President Director & CEO XL Axiata, Hasnul Suhaimi, di Indonesia saat ini ada sekitar 50 juta kartu perdana terbuang setiap tahunnya. “Karena banyaknya swing user, akhirnya ada uang terbuang percuma sekitar Rp 3 triliun dari churn rate itu,” sesalnya. Salah satu praktik ilegal yang marak karena mudahnya mengaktivasi kartu perdana adalah banyaknya trafik Sambungan Langsung Internasional (SLI) ilegal melalui sim box.  Pemerintah sendiri kabarnya dirugikan Rp 800 miliar hingga Rp 2 triliun per tahun karena adanya praktik ilegal ini.
“Ribuan SIM card dibuang setiap hari karena blokir anti-SIM Box dan ribuan pula SIM card baru diaktivasi untuk menggantikan. Praktek ini melahirkan data jumlah pelanggan yang seolah tumbuh terus dan nilai average revenue per user yang tidak valid,” ungkap Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Kalamullah Ramli. Dikatakannya, digerai-gerai penyedia kartu perdana banyak dijumpai SIM card yang sudah diaktivasi.
Kartu ini lalu dibeli masyarakat dalam jumlah amat banyak untuk mengirim SMS polling ke beberapa acara TV atau untuk beragam pemakaian lainnya. “Kalau registrasi ulang ini sukses, 20 persen kerugian negara itu bisa ditekan karena praktik ilegal,” harapnya. Sejauh ini diperkirakan ada lebih dari 250 juta nomor prabayar yang beredar di Indonesia. (dk/mar)