Halau Bosan Memotret

"Saya bosan. Hasilnya begitu begitu saja, nggak ada peningkatan. Nggak ada yang bagus".
Komentar di tersebut sering kali terdengar dari penghobi foto karena merasa hasil jepretannya tidak ada perubahan, sehingga saat ini alat kameranya lebih banyak jadi pajangan di dry box. Kebosanan tersebut sejatinya adalah hal yang lumrah. Seperti juga pada hobi-hobi yang lain seperti bersepeda, musik, atau memasak. Yang diperlukan untuk menjauhkan kejenuhan yakni menambah teman baru atau menyelingi dengan variasi lain yang lebih menarik.
Bila mengalami kebosanan dan rasa jenuh itu, Anda dapat dilakukan beberapa tips berikut:

1. Cari teman untuk berdiskusi atau sebaliknya untuk berkompetisi. Tentu kompetisi yang sederhana dan sehat. Bukan untuk saling menjatuhkan, mem-bully dan mengolok-olok. Melainkan kompetisi yang memotivasi. "Kalau kamu bisa dapet momen ini, kok saya enggak ya. Kok dapet aja angle kayak gini. Besok lebih jeli lagi ah," kira-kira begitu.
Kuncinya, berani saling buka-bukaan tentang hasil jepretan kepada teman. Jangan malu bila hasilnya lebih buruk. Sebaliknya, jangan sombong jika lebih bagus. Buatlah fotografi itu hal yang menyenangkan.

2. Bikin target tertentu, baik secara kuantitas maupun kualitas. Misalkan suka memotret festival atau pawai, maka berapa frame terbaik yang dihasilkan dari festival ke festival. Dari satu event ke event berikutnya harus meningkat jumlahnya dan semakin baik hasilnya.

Anda sendiri yang menentukan standar hasil foto tersebut. Sebab, Anda yang mengetahui kemampuan diri sendiri. Dengan kata lain, belajarlah menjadi 'photo editor' untuk diri sendiri. Kalau hasilnya buruk jangan bersedih. Kalau ada peningkatan tetaplah tersenyum.

3. Jangan spesialisasikan ke genre fotografi tertentu terlebih dahulu, pada tahun-tahun pertama memotret. Itu membosankan, kecuali sudah menentukan 'jalan hidup' dalam satu jenis fotografi khusus.
Percayalah, banyak genre fotografi yang mungkin bakal Anda gemari tapi belum sempat dicoba. Sekedar mencicipi toh tidak ada salahnya.
Misalkan memotret model secara terus menerus ada baiknya diselingi dengan foto still life, foto produk, landscape atau street photography. Karena sebatas selingan, tetaplah dibawa enjoy dan nggak usah membuat target yang muluk-muluk.

4. Buatlah tema atau jadwal khusus tentang apa apa yang akan difoto untuk satu semester atau setahun ke depan.

Misalkan weekend ini memotret beauty shoot, weekend depan memotret landscape. Pekan berikutnya memotret macro, lalu dilanjutkan dengan njepret kota malam hari.
Kemudian hunting ke pasar tradisional, ke stasiun, ke museum, ke perajin sepatu, petani kedelai, ke pantai, dan begitu seterusnya sehingga tidak membosankan.
Atau bisa berburu tema tertentu dalam jangka waktu yang sudah dirancang. Misalkan dalam 3 bulan, Anda mau memotret kota Jakarta dari berbagai rooftop gedung pencakar langit.

Mau enggak mau, Anda bakal membuat daftar gedung yang kira-kira bisa diakses buat memotret. Lalu berfikir waktu yang tepat dan peralatan yang memadai. Juga teknik memotret malam yang menarik. Pastinya, setelah 3 bulan berlalu, hasilnya menakjubkan.

Anda pun dapat mendudukan fotografi sedinamis mungkin, bukan sekedar rutinitas semata. Sehingga mampu menemukan hal-hal baru dan melatih kepekaan lingkungan.

5. Jangan terjebak dengan gonta-ganti alat. Memang tidak ada salahnya karena dengan gear yang baru, pasti akan lebih bersemangat untuk mencoba. Apalagi dengan teknologi dan menu yang selalu bertambah, tentu membuat dorongan tersendiri.

Namun ada benarnya pula kalau Anda memiliki gear kesayangan. Kamera tercinta itulah yang bakal menemani Anda memotret bertahun-tahun. Nantinya, Anda semakin terbiasa dan memahami karakter gear tersebut.

Temanilah kamera kesayangan seakan-akan Anda berjodoh dengannya. Temukan chemistry antara Anda dengan gear Anda. Bisa jadi, itu mampu mendorong mood foto-foto yang dihasilkan. Apalagi kalau sudah mempunyai romantika tersendiri saat memotret, terpeleset, terjatuh atau kehujanan. Mungkin juga pernah menghasilkan uang pada saat Anda benar-benar nggak punya duit. Pasti nilai historis itu akan mempengaruhi passion saat memotret.

Yang ingin saya katakan, jadikan kamera Anda belahan jiwa dan 'teman berbicara'. Sehingga kamera bukan sekadar tools atau benda mati. Melainkan sesuatu yang mampu membangkitkan gairah dan merangsang ide-ide untuk memotret.(dtc/fia)