17 Ribu Orang Gugat Facebook

JAKARTA - Max Schrems, mahasiswa 26 tahun asal Austria menggalang dukungan ke para anggota Facebook untuk melakukan class action terhadap raksasa jejaring sosial tersebut. Hasilnya, ribuan orang bergabung dengannya.
Saat ini tidak kurang dari 17 ribu orang menyatakan dukungan untuk menggugat Facebook atas tuduhan pelanggaran aturan perlindungan data dan memberi akses mata-mata bagi Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat atau National Security Agency (NSA).
Petisi gugatan ini diluncurkan pada 1 Agustus. Mahasiswa jurusan hukum ini menyerukan agar 1 miliar pengguna Facebook bergabung dengan dirinya, seperti yang dikutip The Guardian, Rabu (6/8/2014) kemarin.
Di awal peluncurannya, ada 5.000 anggota Facebook telah mendaftar ke aksinya tersebut melalui aplikasi khusus yang dapat diakses dari komputer dan perangkat komputer itu.
Nantinya mereka diminta untuk memberikan akun Facebook dan identitas personal lainnya. Nah, hingga kini jumlahnya terus naik sampai tiga kali lipat.
"Email dan umpan balik benar-benar benada positif dan apa yang menarik adalah bahwa banyak orang mengatakan akhirnya seseorang melakukan sesuatu soal masalah ini," kata Schrems.
"Tujuan kami adalah untuk membuat Facebook akhirnya beroperasi secara sah di bidang perlindungan data," tandasnya.
Sementara itu Mozilla mengonfirmasikan setidaknya ada 76.000 email dan 4.000 password terenkripsi milik developer yang bocor dari Mozilla Developer Network (MDN).
Kebocoran ini tak sengaja dilakukan MDN karena kegagalan proses data sanitization. Proses ini bertujuan menghapus informasi personal identification dari data yang tersimpan untuk melindungi privasi pengguna.
"File database berisi informasi yang tak digunakan langsung dihapus segera setelah kerentanan tersebut terdeteksi," ujar Director of Developer Relations Stormy Peters dala postingan blog Mozilla Security.
Seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (6/8/2014), password yang sudah bocor tak bisa lagi digunakan untuk log in ke MDN. Meski Mozilla tidak menemukan bukti data diakses, Peters meminta para developer mengganti password mereka.
"Kami juga terus mengawasi proses yang berlangsung, agar lain kali tidak terjadi hal serupa ketika kami melakukan proses pembersihan data," tulis Peters. (dt/feb)