Pindah ke 2,3 GHz, Pelanggan Smartfren Ganti Handset?

JAKARTA - Operator Smartfren Telecom sudah bisa melakukan transisi migrasi frekuensi dari 1.900 MHz ke 2,3 GHz. Lantas, apakah hal ini akan berdampak pada pelanggan Smartfren?
Sebelum timbul kekhawatiran dari pelanggan, Smartfren memastikan bahwa pelanggannya tetap akan bisa menikmati layanan seluler CDMA seperti biasa di saat migrasi frekuensi dilakukan. Hanya saja memang ada yang harus disesuaikan, terutama dari sisi handset pelanggan.
Perpindahan frekuensi sudah bisa mulai dilakukan Smartfren sejak ditandatangani Peraturan Menkominfo untuk memuluskan migrasi tersebut. Realokasi akan dilaksanakan secara bertahap dan wajib diselesaikan selambat-lambatnya pada tanggal 14 Desember 2016.
Direktur Smartfren Telecom Merza Fachys berharap transisi bisa dilakukan secepatnya dengan target minimal satu kota untuk layanan baru seluler menggunakan teknologi TD Long Term Evolution (LTE) pada awal 2015 mendatang.
"Pokoknya aman lah pelanggannya," tegas Merza, kemarin.
Masalah kompensasi pelanggan telah lama jadi pertimbangan manajemen Smartfren jika migrasi dilakukan. Pasalnya, tidak semua handset pelanggan mendukung layanan untuk spektrum 2,3 GHz.
Deputi CEO Smartfren Djoko Tata Ibrahim sebelumnya sempat mengungkapkan skenario pergantian perangkat pelanggan. Opsi yang tersedia saat itu pelanggan bisa melakukan swap atau trade-in perangkat.
Dalam catatan Smartfren, saat ini pengguna modem dan smartphone bundling Andromax berkisar 65% dari total 12,5 juta pelanggan yang dilayani hingga akhir tahun lalu dengan 5,5 juta di antaranya merupakan pengguna aktif layanan data.
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Ridwan Effendi menegaskan, pergantian handset pelanggan merupakan kewajiban dari pihak Smartfren sebagai kompensasi. "Handset lama yang tidak support harus diganti," tegasnya. (dtc/aim)