Tips Hindari Syndrom ‘Selalu On’

Anda sedang berlibur tapi langsung memeriksa e-mail kantor begitu Anda bangun. Anda kesal jika tidak ada jaringan Wi-Fi di hotel atau tidak ada sinyal di pegunungan. Anda gelisah jika baterai telepon mulai rendah dan khawatir akan ada masalah di kantor jika Anda tidak berada di sana. Tanda-tanda itu adalah gejala dari apa yang disebut stres "selalu on" akibat kecanduan ponsel.
Bagi beberapa orang, alat portabel seperti ponsel membebaskan mereka dari belenggu jam kantor. Bekerja secara fleksibel telah memberi mereka lebih banyak kebebasan pada kehidupan karier dan memungkinkan mereka menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman dan keluarga.
Bagi banyak orang lain, ponsel telah menjadi tirani di kantong, tidak pernah mengizinkan kita mematikannya, rileks, dan menghidupkan kembali baterai kita. Sejumlah pakar internasional juga telah mengutarakan kekhawatiran mereka tentang sindrom itu.
Tentunya, perusahaan ponsel dan teknologi lain bersikeras bahwa konektivitas bergerak menguntungkan dan tidak merugikan dan banyak anak muda, pegawai kantor, serta pelaku wirausaha yang sepakat dengan ide itu.
Chris Kozup, direktur di Aruba Networks, mengatakan, "Penelitian kami menemukan bahwa 'selalu on' dan selalu terkoneksi membantu pekerja mengelola keseimbangan antara rumah dan kantor."
Lantas bagaimana caranya menghindari stres akibat ponsel? Berikut tips dari para pakar:
- Mengubah pandangan Anda bahwa konektivitas adalah hal yang menguntungkan.
- Memakai ponsel dengan disiplin.
- Jika berlibur, aktifkan layanan e-mail "Out of Office".
- Matikan ponsel dan jauhkan dari jangkauan ketika Anda tidur.
- Jangan khawatir bahwa kantor akan runtuh, seperti kata seorang pakar, "Anda bukan satu-satunya orang yang bisa memecahkan masalah di kantor."(*/fia)