Kaum Hawa Makin Dilindungi Twitter

TWITTER kini semakin nyata melindungi para penggunanya, khususnya yang berkelamin wanita, untuk melaporkan segala macam pelecehan yang dilayangkan melalui platform sosial media itu. Bahkan mereka bekerja sama dengan organisasi khusus untuk melindungi wanita dari pelecehan di Twitter.
Twitter bekerja sama dengan organisasi non profit Woman, Action and the Media (WAM) untuk menangkal peningkatan pelecehan seksual terhadap wanita yang terjadi di Twitter. Menurut mereka, jumlah pelecehan wanita di Twitter semakin meningkat dan tidak bisa dihentikan.
Riset dari perusahaan riset Pew menunjukkan jika 26 persen wanita berusia 18 dan 24 tahun telah dikuntit secara online. Bahkan 25 persen dari mereka menjadi target pelecehan seksual.
WAM mengaku telah membuat formulir yang mudah digunakan oleh para wanita untuk bisa melaporkan pelecehan yang dialaminya di Twitter. Mereka dipastikan bisa melaporkan ancaman atau pelecehan untuk kemudian  Twitter yang akan menindak.
"Saat ini wanita pengguna Twitter mendapatkan pelecehan dengan cara yang berbeda-beda. Sistem pelaporan yang dimiliki TWitter tidak mampu mendeteksi hal ini sama sekali," ujar Eksekutif Director of WAM, Jaclyn Friedman, seperti dikutip melalui The Guardian, Minggu 9 November 2014.
Organisasi ini memperkirakan akan ada banyak laporan pelecehan dari para wanita kulit berwarna dan juga dari komunitas Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender (LGBT). Para pelapor itu dimungkinkan untuk melaporkan banyak akun sekali waktu. WAM pun diberi kesempatan untuk meneruskan laporan itu ke Twitter dalam kurun 24 jam.
"Anda bisa melaporkan satu tweet tapi itu tidak menaikkan tingkat pelecehan yang dialami. Jika ada beberapa tweet maka ceritanya akan 'besar'," kata Friedman.
Dalam formulir itu terdapat pertanyaan 'Apakah anda takut akan keamanan diri anda sendiri karena pelecehan itu? dan 'Berapa kali anda melaporkan pelecehan ini di Twitter?'. Selain pelaporan, formulir ini juga memiliki tujuan sebagai data mengenai perilaku para peleceh di dunia maya. Ini bisa dijadikan dasar bagi Twitter untuk memahami perilaku peleceh dan mencari cara yang lebih konkrit untuk melindungi penggunanya.(vv/fia)