Bermain Foto Low Light dengan Senter

BERMODAL lampu senter, pemotretan tetap bisa dilakukan. Bahkan, pada kondisi lampu yang temaram tersebut (low light) fotografer mampu mengontrol bayangan secara apik. Bukan teknik baru namun tetap bikin penasaran.
Ide memotret ini dilatari oleh permainan lampu spot mungil di kebanyakan coffee shop. Biasanya untuk menonjolkan properti, dekorasi atau identitas yang menarik di tempat tersebut. Selain itu, lampu spot juga biasa dipakai untuk menyorot pameran foto maupun displai produk di etalase toko.
Yang terlihat yakni jatuhnya cahaya dan bayangan terasa apik dalam mengontrol subyek yang ingin diekspos. Sehingga narasinya menjadi fokus, tidak meluber ke mana-mana. Seperti panggung teater yang dramatis dengan lampu sorot mengarah ke aktor utama.
Ternyata untuk memperoleh gambar tersebut tidaklah rumit. Bisa dengan sebuah sorotan lampu senter tangan dan sedikit kreativitas, maka gambar atraktif sudah bisa diperoleh.
Bagaimana langkahnya? Pertama siapkan subjek yang akan dipotret dengan bijak. Pilihlah beberapa yang fotojenik, colorfull, tekstur yang komplit dan mudah dikenali. Maklum, pemotretan pada cahaya rendah akan kesulitan bila subyeknya kurang spesifik dan tidak mempunyai sesuatu yang menonjol.
Pemotretan kali ini memilih jeruk dan bumbu dapur. Alasannya seperti tadi, cukup familiar dan mempunyai warna yang mencolok. Sehingga diharapkan mampu memunculkan cerita dengan lugas dan secara teknis dapat mengatasi kondisi low light dengan maksimal.
Kedua, siapkan tripod, kamera, lampu senter dan lightstand untuk menyangga senter. Tripod guna mengantisipasi slow speed. Lightstand untuk memudahkan cahaya senter diarahkan ke subjek tanpa bergoyang hingga continues light berlangsung dengan mudah. Kalau dipegang, dikhawatirkan akan bergoyang pada pemotretan slow speed sehingga membuat bayangan tidak konsisten.
Ketiga, siapkan meja atau apapun untuk membuat 'panggung' bagi yang akan kita potret. Susun pada posisi yang paling menarik. Gunakan taste yang unik untuk menonjolkan bentuk, warna dan tekstur.
Kemudian arahkan cahaya lampu senter pada posisi sudut 45 derajat. Sudut ini bisa berubah-ubah tergantung cerita dan kebutuhan yang ingin ditonjolkan. Pun begitu, pada prinsipnya tetap memastikan cahaya jatuh dan fokus pada bidang yang ingin kita ekspos.
Keempat, setting kamera pada mode manual supaya bisa mengontrol triangle exposure -- ISO, Aperture, Speed -- dengan sempurna. Biasanya dengan menetapkan bilangan ISO terlebih dahulu, kemudian apperture dan diakhiri dengan kecepatan rana (speed).
Dengan dibantu tripod, pemotretan kali ini bisa bermodal ISO 200 sehingga tidak ada noise atau grainy akibat ISO tinggi. Aperture juga bisa dikontrol hingga f/8 dengan kecepatan rana menyesuaikan sampai mendapatkan exposure yang meyakinkan.
Untuk hasil teknis paling maksimal, tidak ada salahnya menggunakan format RAW. Sehingga kualitas gambar tidak perlu diragukan. Koreksi di komputer juga semakin mudah.
Bila semua sudah siap, waktunya menekan tombol shutter dengan cermat. Tidak perlu buru-buru, nikmati setiap jepretan dengan yakin. Review sejenak pada layar LCD kamera dan nilai dengan kilat apa-apa yang perlu dibenahi.
Biasanya perlu dua hingga tiga frame hingga hasil memuaskan tergantung pada kebutuhan. Permainan komposisi menjadi kekuatan foto-foto genre seperti ini. Langkah terakhir yakni memindahkan ke komputer dan koreksi seperlunya seperti croping, exposure dan koreksi warna. Dalam hitungan menit, foto pun sudah bisa dinikmati. Bisa untuk pajangan dinding, wallpaper komputer atau smartphone.(dtc/fia)