Smartfren Pindah 4G LTE

UBUD - Secara bertahap Smartfren akan segera mematikan layanan jaringan CDMA yang kini masih dimilikinya. Kebijakan ini harus diambil semata-mata sebagai bentuk totalitas layanan bisnis komunikasi yang dikelolanya. “Secara teknis layanan CDMA sudah sangat ketinggalan jaman. Karena itu sarankan pelanggan CDMA segera migrasi pada layanan yang lebih bagus,” ungkap VP Technology Relation Smartfren, Munir Syahda Prabowo, Senin (8/8) malam. Dikatakan dia, hingga saat ini, Smartfren masih memiliki sekitar 10,5 juta pelanggan CDMA. Jumlah itu belakangan terus menurun seiring naiknya kebutuhan teknologi dalam berkomunikasi. “Data terakhir kurang lebih 2,5 juta pelanggan CDMA sudah bergerak ke layanan 4G LTE,” tegas dia. Semula, tambah Munir, sapaan akrabnya, Smartfren ingin mempertahankan pelanggan CDMA hinga layanan ini masih dianggap perlu. Artinya, Smartfren tidak mematikan paksa layanan CDMA selama pelanggannya masih ada. “Tetapi keinginan itu (mematikan) tidak mungkin kami lakukan. Selain karena adanya kebijakan pemerintah soal penggunaan frekwensi, pengelolaan CDMA secara bisnis kurang menguntungkan,” pungkas Munir. Jika melihat sejarah, dua aliran frekuensi besar dalam dunia telepon seluler dipegang oleh GSM dan CDMA. Menariknya, perkembangan ke depan memang membuktikan bahwa GSM masih lebih unggul dalam hal jumlah pelanggan ketimbang CDMA. Padahal, jika berkaca pada kondisi di Indonesia, CDMA sendiri bisa dibilang memiliki biaya penggunaan yang lebih murah ketimbang GSM. Namun parahnya, kepopuleran GSM di atas CDMA memang bisa dibilang menjadi salah satu penyebab CDMA mati perlahan di tanah air. Smartfren optimis ke depannya pengguna mereka akan secara sadar berpindah ke perangkat 4G. Hal ini berlangsung secara ilmiah. Pasalnya, kesadaran untuk menggunakan perangkat 4G akan dilakukan lantaran lingkungan komunikasi seluler saat ini sudah mengedepankan jaringan 4G. (has/mar)