Wajib Gunakan Kurikulum Berbasis KKNI


MALANG – Seminar dan Lokakarya Nasional Revitalisasi Laboratorium dan Jurnal Ilmiah dalam Implementasi Kurikulum Bimbingan dan Konseling berbasis KKNI yang diselenggarakan oleh Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 4 – 6 Agustus lalu, menghasilkan kesepakatan berupa MOU program studi BK se-Indonesia. Dalam MOU tersebut, tercantum beberapa hal yang menjadi isu penting terkait dengan pengembangan profesi BK di Indonesia, yakni pengembangan kurikulum berbasis KKNI, laboratorium yang sesuai standart, dan jurnal ilmiah terakreditasi.
Ketua Pelaksana, Dra Elia Flurentin M.Pd mengungkapkan, penyelarasan kurikulum ini agar program studi BK di seluruh Indonesia memiliki standart pembelajaran yang sama. Kurikulum yang digunakan yakni harus berbasis KKNI dengan disertai standart capaian pembelajaran. “Capaian pembelajarannya inilah yang kemudian dibahas, misalnya untuk mata kuliah assessment test, harus ada teori dan praktek. Capaian pembelajaran inilah yang pasti harus dipenuhi,” bebernya.
Sebagai pemberi layanan dan tataran lembaga penghasil konselor, mahasiswa harus dibekali dengan berbagai macam pengetahuan, sikap dan pengalaman sehingga untuk menjadi kosenlor. Dan untuk mengemas ke arah tersebut, diperlukan laboratorium sebagai tempat mahasiswa melalukan studi praktek.
“Ada beberapa ketentuan laboratorium, secara gambaran fisiknya yakni sebuah ruangan dengan dinding kaca cermin yang memungkinkan mahasiswa untuk observasi, ber-AC, dan ruangan harus kedap suara namun dilengkapi dengan microfon agar dosen yang berada di ruangan berbeda dapat mendengar proses konseling mahasiswanya. Jadi intinya adalah bagaimana persoalan sarana prasarana, pendanan dan pengelolaannya,” urai Elia.
Selain laboratorium, jurnal penelitian menjadi masalah sendiri yang harus dipecahkan dan bersifat mendesak. Elia juga menegaskan bila berkembangan program studi harus diikuti dengan perkembangan penulisan jurnal. Namun, jurnal yang ditulis tak boleh hanya sekedar jurnal tetapi memenuhi kaidah penulisan jurnal nasional, bahkan internasional.
“Jurnal ini kan perluasan hasil penelitian agar bisa dibaca banyak orang, jadi harus ada standartnya. Dan dengan MOU ini, para peserta dituntut bagaimana mendorong penelitian dosen dan mahasiswa tertuang dalam wadah jurnal yang bisa menjadi sumber informasi bagi banyak orang,” urai Elia.
Melalui workshop dan lokakarya ini, maka ke depan program studi BK peserta perjanjian akan terus menguatkan komunikasi secara terus menerus sehingga standarisasi ketiga hal tersebut, dapat segera dilakukan. (mg19/adv/nda)

Berita Lainnya :