Tim PKM UM Olah Buah Bintaro Jadi Bioetanol

 


 
MALANG – Buah Bintaro selama ini hanya bisa dijadikan sebagai pembasmi tikus. Namun, ditangan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM), buah Bintaro bisa dijadikan bioetanol. Padahal umumnya bioetanol berasal dari singkong dan kelapa sebagai bahan baku utama.Penelitian ini berhasil lolos Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas).
Tim PKM UM yang terdiri dari Rangga Ega Santoso (Teknik Mesin), Nur Fitriana (Biologi), Maria Carolina Yuaniar (Teknik Sipil), dan Firda Chynthia (Kimia) berhasil membuktikan kualitas bioetanol yang dihasilkan dari buah Bintaro. Menurut penelitian mereka, kandungan bioetanol yang dihasilkan buah Bintaro lebih baik dibandingkan dengan bioetanol singkong dan kelapa.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan buah Bintaro berhasil mendapatkan prosen yield etanol yang lebih tinggi. Hasil uji gas kromatografi menunjukkan bahwa kadar etanol mencapai 9,977 persen,” jelas Rangga Ega Santoso, Ketua Tim.
Keunggulan-keunggulan dari penelitian tim ini terletak pada nilai efisiensinya. Yakni hanya membutuhkan waktu 4 hari 3,5 jam untuk memproses buah Bintaro menjadi etanol. Disamping itu, harga implementasinya sangat ekonomis​. Ini karena bahan-bahan penelitian yang digunakan tergolong murah dan mudah didapat di pasaran.
“Tim kami dapat mengimplementasikan formula Bioaction untuk mengolah 19.042 ton sumber substrat Bintaro di Jawa Timur. Sehingga aktifitas pengolahan tersebut dapat menghasilkan 135 ribu ton etanol selama 1 tahun,” jelas Rangga.
Ia mengungkapkan, penggunaan buah Bintaro dalam pembuatan bioetanol skala besar tidak akan menimbulkan persaingan dengan pemenuhan kebutuhan pangan. Karena tanaman Bintaro dapat digolongkan sebagai tanaman non pangan akibat kandungan racun pada biji Bintaro yang menyebabkan buah Bintaro tidak dapat dikonsumsi.
"Di Malang, buah Bintaro banyak juga. Seperti di sekitar UM atau di jalanan. Sebab buahnya bisa menyerap Co2 atau asap," tambah mahasiswa semester 4 ini.
Bintaro merupakan jenis tanaman mangrove yang banyak tumbuh di daerah tropis Indonesia dan belum dimanfaatkan secara maksimal.
"Buah ini memiliki 36,945 persen kandungan selulosa sehingga sangat berpotensi untuk bahan baku Bioetanol," kata dia.
Pengolahan buah Bintaro menjadi bioetanol dilakukan melalui proses hidrolisis untuk memecah selulosa menjadi glukosa yang merupakan bahan baku fermentasi bioetanol.
Berdasarkan latar belakang tersebut, proses pengolahan buah Bintaro yang dilakukan berbeda dari peneliti terdahulu yang juga mengolah buah Bintaro menjadi bioetanol. Proses pengolahan dimulai dari pre treatment, uji fehling, uji Nelson-Sommoogyi, delignifikasi, hidrolisis asam sulfat, fermentasi, dan distilasi.(sin/adv/van).

Berita Lainnya :