Tim Roket Fisika UM Juara III Komurindo Kombat

 
MALANG – Untuk kedua kalinya, tim roket Fisika Universitas Negeri Malang kembali menorehkan prestasi dalam ajang bergengsi Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia-Kompetisi Muatan Balon Atmosfer (Komurindo Kombat). Tahun ini, delegasi UM berhasil meraih juara III untuk divisi sistem wahana kendali. Sementara tahun lalu, UM bergema dalam juara desain roket terbaik.
“Kami membuat roket kendali yang telah diprogram dengan sistem melalui berbagai parameter. Tidak dijelaskan oleh juri poin apakah yang membuat tim kami menang, namun di roket ini kami siapkan dengan performa dan kestabilan yang baik,” ujar pembina delegasi UM,  Samsul Hidayat, S.Si., M.T.
Komurindo Kombat adalah ajang lomba tahunan yang diselenggarakan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Tahun ini kompetisi tersebut dilaksanakan di Lapangan Pameungpeuk, Garut pada 22- 25 Agustus 2017.
Roket yang berjuluk Singhasari_USRC ini digawangi oleh Sihabudaril Muttaqin, Moh. Sakroni Hidayat, Bagas Haqi A. di divisi wahana sistem kendali dan Nizar Rahmanda Hardiyanto, Thathit Suprayogi, Qonita Ayu W di divisi muatan roket.
Dengan membawa gelar desain terbaik dalam ajang tahun lalu, Samsul mengatakan banyak mendapat ilmu untuk diterapkan dalam roket di tahun ini.
“Powernya yang kurang kemudian ditambah, sistem kendali juga diperindah. Total kami sudah ikut selama tiga kali, dan meskipun yang pertama belum mendapatkan juara, namun bekal dari kegagalan-kegagalan yang telah kita lalui tersebut menjadikan kita selalu belajar dan berinovasi untuk menjadi yang terbaik,” papar dosen Fisika FMIPA UM ini.
Berbagai persiapan dilakukan untuk hasil yang maksimal. Dimulai dari desain roket yang kuat dan tahan banting, menyiapkan mesin roket yang dapat melesat mengenai sasaran, latihan berkali-kali dan kerja 24 jam tanpa henti telah mereka jalani.
Selain juara, ada kebanggan lain yang terselip untuk anggota delegasi yakni totalitas dalam bekerja. Samsul menerangkan, anggota tim sanggup mengerjakan berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan mesin, las, hinga pemprogaman.
“Mereka bekerja hampir tidak kenal waktu dan tidak hanya untuk sekadar menang. Dalam kondisi apapun mereka tetap tahan banting dan selalu mengedepankan ibadah sholat,” jelasnya.
Dia berharap, ke depan mahasiswanya selalu terdepan dalam penguasaan IPTEK dan sanggup bekerja dalam berbagai kondisi.
“Bila sudah mengikuti kompetisi, tentu harapan kami adalah menang. Namun di atas itu yang terpenting yakni karakter sebagai bangsa yang kerja keras,” tutupnya. (ras/adv/van)

Berita Lainnya :