63 Tahun UM, Berkarya untuk Bangsa


 
MALANG - Tepat berusia 63 tahun, Universitas Negeri Malang kemarin (18/10) menggelar upacara Dies Natalis bertajuk “Berkarya untuk Bangsa”, di Graha Cakrawala. Dalam momen yang sama, juga meresmikan gedung Graha Rektorat UM oleh rektor Prof. Dr. H. Ah. Rofiuddin, M.Pd. Nantinya, gedung dengan sembilan lantai dan satu lantai dasar ini akan difungsikan sebagai pusat pelayanan administrasi satu atap. Tema ini dipilih sebagai tema turunan dalam program kerja pemerintah, dan sebagai ikhtiar dalam membangun atmosfer dan kesadaran kolektif untuk berkarya dan berprestasi untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.
"Perjalanan UM dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi telah banyak menghasilkan kemajuan dan capaian yang membanggakan, diantaranya kemajuan dan prestasi baik dalam berbagai bidang," ujarnya.
Dalam peningkatan prestasi dan peringkat UM, berbagai hal akan terus digiatkan. Yakni peningkatan mutu lulusan melalui proses pengajaran, rasio dosen mahasiswa dan jumlah bimbingan yang proporsional serta anti plagiasi.
Menjadi kampus yang multi culture, UM menjunjung tinggi kebhinekaan dan menjaga empat pilar kebangsaan salah satunya denga terus menjaga laboratorium pancasila yang telah dibangun di tahun 1967.
"UM juga terus meningkatkan jumlah dan kualitas penelitian dan pengabdian pada masyarakat, yang memiliki dampak terhadap lesejahteraan dan kemakmuran bangsa," sambungnya.
Mempertahankan jati dirinya sebagai kampus Ramah Sosial, UM bertekad memenuhi kuota pemberian bidikmisi dan UKT bagi mahasiswa kurang mampu. Diesnatalis kali ini menghadirkan Ketua Deputi Bidang Advokasi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Prof. Dr. Hariyono, M.Pd, sebagai pengisi Orasi Ilmiah.
Juga Lintang Pandu Pratiwi, alumni UM yang merupakan salah satu dari 72 Ikon Prestasi Indonesia. Selain itu, Rektor juga memberikan ucapan selamat dan pemberian penghargaan kepada Profesor dan Doktor Baru UM.
Graha Rektorat UM yang diresmikan kemarin, digadang sebagai ikon UM selain Graha Cakrawala yang telah berdiri megah. Nantinya, gedung rektorat lama UM akan menjadi museum. 
Gedung Graha Cakrawala ini sebagai salah satu langkah UM untuk meningkatkan kualitas layanan kepada mahasiswa khususnya, civitas akademi umumnya, dan masyarakat secara umum yang memerlukan pelayanan akademik UM. Dengan 36.675 mahasiswa yang tersebar dalam 144 program studi di delapan fakultas, 1012 dosen dan 1149 tenaga kependidkan, maka diperlukan suatu pelayanan yang terintegrasi dan cepat.
Gedung ini menepati lahan seluas 18 ribu meter persegi dan berbentuk memanjang dari utara ke selatan. Bangunan gedung menempati 13.34 persen dari luas total lahan yang tersedia, yakni sekitar 2400 meter persegi. Sisa lahan sebesar 15600 meter persegi rencananya akan digunakan untuk bangunan plaza, ruang terbuka hijau dan fasilitas parkir terbuka. 
Gedung Graha Rektorat menghadap ke timur, membelakngai Gunung Putri sehingga seolah-olah bersandar pada gunung atau sendhen gunung. Bersandar pada gunung, menggambarkan kekokohan, keteguhan dan kesiapan seluruh civitas UM dalam melayani civitas akademiknya dan seluruh masyarakat, serta upaya meraih cita-cita dan bersaing kualitas dengan perguruan tinggi lain di dalam maupun luar negeri.
Dengan memiliki tiga atap berbentuk joglo, menggambarkan tridharma, yaitu pengajaran, penelitian,dan pengabdian kepaada msyarakat. Di dekat pintu masuk utama di sisi timur gedung terdapat dua buah tangga yang saling menyilang arahnya, menggambrakan terjadinya interelasi antarkomponen sivitas akademi dalam bekerja. Keindahan gedung Graha Rektorat ini menjadikannya sebgaai salah satu spot berfoto baru. (ras/adv/oci)

Berita Lainnya :