Produk Perbankan Syariah Indonesia Tidak Inovatif

 
MALANG – Meski telah tumbuh dengan pesat dan menjadi satu dari sepuluh besar industri keuangan syariah di dunia, namun, perbankan syariah di Indonesia masih memerlukan perhatian di berbagai sisi. Aspek Good Corporate Governance (GCG) yang menyangkut tentang faktor resiko kerugian, juga pada inovasi produk yang faktanya masih tertinggal jauh dibandingkan di negara lain.
“Untuk mencapai lima prinsip dasar GCG, maka industri keuangan syariah memiliki karakteristik khusus yang terikat nilai akidah dan akhlak serta komitmen untuk memenuhi ketentuan syariah, dan hal itu dijamin oleh Dewan Pengawas Syariah,” papar Dr. Abdelelah Mohammed Ahmed Nimr, pakar Perbankan Syariah dari Sudan (Universitas Khartoum) dalam Seminar Internasional ‘Actualizing Good Sharia Governance in Islamic Banks’ yang digelar Fakultas Ekonomi Unisma, kemarin (19/10).
Lima prinsip dasar GCG yakni transparansi, akuntabilitas, responsibility, profesionalisme, dan fairness. GCC menyangkut tentang berbagai macam risiko kerugian yang jika tidak diperhatikan maka tentu dapat merusak citra syariah di masa depan dan membuatnya kolaps sebagaimana yang telah terjadi pada beberapa bank konvensional. 
Terkait dengan inovasi produk, Abdelelah juga mendorong Dewan Perbankan Syariah (DPS) untuk pro-aktif, tak perlu menunggu draft usulan suatu produk untuk dikeluarkan fatwanya.
“Harus sudah ada inisiatif untuk mengeksplore literature fiqih klasik untuk menemukan model yang akad yang sesuai dengan perkembangan produk keuangan, tidak hanya sebatas melakukan cloning pada produk konvensional yang telah diberi label syariah,” imbuhnya.
Bila dibandingkan dengan negara-negara pioneer Perbankan Syariah seperti Malaysia, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, inovasi produk perbankan syariah di Indonesia memang tertinggal jauh. Padahal, adanya inovasi produk akan berdampak pada pengembangan pasar bank syariah.
Selain inovasi produk, juga tak kalah penting penguatan SDM Perbankan dari aspek Syariah, sehingga menjamin kepatuhan syariah serta tumbuh dan berkembangnya literasi masyarakat mengenai perbankan syariah.
Rektor Unisma, Prof. Dr. Maskuri, M.Si dalam sambutannya menyatakan rasa bangga dan apresia atas kerja keras panitia hingga terlaksananya acara ini.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi Unisma Nur Diana, SE., M.Si menyatakan kegiatan seminar ini merupakan kali pertama yang digelar prodi Perbankan Syariah FE Unisma untuk mendukung dan memberikan wawasan terbaru pada tata kelola perbankan berbasis Islam yang baik dan berdaya saing tinggi.
“Dan telah menjadi budaya bagi Fakultas Ekonomi Unisma untuk mengundang pakar baijk dari lingkungan nasional maupun internasional, akademisi maupun praktis, untuk memberikan wawasan yang lebih luas mengenai isu-isu ekonomi terbaru,” ujarnya. (ras/adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :