Gelar Lomba Lembaga Kursus, Ajang Kompetisi dan Kontrol Mutu

 
MALANG - Masita begitu lincah merapikan sanggul yang dipasangkan pada sebuah manekin. Ia dan puluhan lainnya terlihat sangat terampil walau ada juga yang tak bisa menutupi nervousnya. Walau sehari-hari biasa memasang sanggul, namun ketika lomba, rasa gugup masih saja datang. Masita adalah salah satu peserta untuk bidang lomba membuat sanggul pesta. Mereka ditantang untuk bisa memasang sanggul dengan rapi dalam waktu 90 menit.
Masita adalah salah satu peserta yang merupakan siswa dari Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Diapuspita. Ia biasanya dapat membuat sanggul kurang dari satu jam. Saat ini, dia baru satu bulan belajar tata kecantikan rambut.
”Sebelumnya saya freelance make up, trus ada kesempatan diajak kursus di LKP, jadinya lebih semangat untuk bisa,” ujarnya.
Ita, panggilannya, hanya bermodal nekat mengikuti lomba ini lantaran rekan-rekannya yang lain berhalangan untuk ikut.
”Kalau lihat teman-teman lain yang sudah profesional, rasanya grogi. Tapi kalau nggak menang nggak apa-apa, karena pengalaman untuk ikut ini nggak datang dua kali,” ujarnya.
Di lomba kecantikan yang diikuti instruktur lembaga, mereka berlomba untuk membuat sanggul Bali atau pusung tagel dalam waktu 20 menit menggunakan manekin. Mereka juga harus mempresentasikan dan menjelaskan sanggul buatan mereka selayaknya saat menjelaskan kepada peserta didik.
Seperti yang dilakukan oleh salah satu peserta. Dia menerangkan bahwa sanggul harus dibuat sesuai dengan bentuk wajah.
”Untuk yang berwajah bulat, paling cocok dengan sanggul panjang, tapi tidak boleh melebihi bahu. Bila wajahnya sudah proporsional, sanggul mau ditarik ke atas pun tidak apa-apa. Yang terpenting adalah analisa, menyesuaikan bentuk sanggul dengan bentuk wajah untuk menghasilkan tatanan yang sesuai,” jelasnya.
Lomba Lembaga Kursus digelar Dinas Pendidikan Kota Malang untuk kali pertama. Ada tiga kategori yang dilombakan, yakni desain grafis, kecantikan, dan tata busana. Selain peserta dari siswa lembaga kursus, lomba juga diikuti oleh instruktur kursus untuk lomba kecantikan, dan lembaga kursus dalam bidang pengelolaannya.
Kepala Bidang Pendidikan PAUD dan Non Formal (PNF) Dinas Pendidikan Kota Malang Suyitno, SH, M.Pd, dalam sambutannya saat membuka acara mengatakan, sebagai lembaga yang bertugas untuk mempersiapkan siswanya dalam dunia kerja secara langsung, maka pembelajaran melalui praktek harus menempati porsi lebih tinggi.
”Dalam lembaga kursus, paling tidak 40 persen mengajarkan teori dan 60 persen praktek implementasi. Sama seperti pembelajaran di SMK. Hanya saja pembelajarannya informal,” ujar Suyitno.
Sebanyak 80 peserta  hadir dari 30 lembaga kursus. Jumlah ini diharapkan akan lebih lagi pada pelaksanaan di tahun mendatang, mengingat saat ini terdapat 88 lembaga kursus di 
Kota Malang.
”Dengan lebih banyak yang ikut, maka semuanya akan lebih punya banyak kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Kami juga sampaikan selamat kepada para peserta, karena mereka adalah lima peserta kursus terbaik yang dipilih oleh lembaga kursus untuk menjadi wakil di lomba ini,” imbuhnya.
Lomba ini, lanjutnya, selain sebagai wadah komunikasi antar lembaga, juga untuk sarana koordinasi dengan lembaga dan Dinas Pendidikan Kota Malang dalam rangka meningkatkan mutu kompetensi baik dari lembaga maupun siswanya.
”Paling tidak dari lomba inilah kami dapat melihat kompetensi yang terbaik, dan dapat dijadikan sebagai tolak ukur maupun role model,” sambungnya.
Sedangkan bagi peserta didik, bidang yang dilombakan yakni membuat sanggul pesta dalam waktu 90 menit. Masita, salah satu peserta dari Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Diapuspita mengatakan biasanya dia dapat membuat sanggul kurang dari satu jam. Saat ini, dia baru satu bulan belajar tata kecantikan rambut.
”Sebelumnya saya freelance make up, trus ada kesempatan diajak kursus di LKP, jadinya lebih semangat untuk bisa,” ujarnya.
Ita, panggilannya, hanya bermodal nekat mengikuti lomba ini lantaran rekan-rekannya yang lain berhalangan untuk ikut.
”Kalau lihat teman-teman lain yang sudah profesional, rasanya grogi. Tapi kalau nggak menang nggak apa-apa, karena pengalaman untuk ikut ini nggak datang dua kali,” ujarnya. (ras/adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :