Sumpah Pemuda Momen Program Literasi

 
MALANG - SMPN 3 Singosari memperingati Sumpah Pemuda, Sabtu (28/10) dengan cara menggelorakan semangat membaca. 900 siswanya diajak membaca koran secara bersama-sama sebagai tanda dimulainya program literasi.  
Program literasi merupakan agenda dari Waka Bidang Kesiswaan yang bertujuan untuk meningkatkan minat membaca siswa agar wawasan mereka semakin luas. Waka Kesiswaan SMPN 3 Singosari, Muksinin, S.Pd mengatakan dengan semangat Sumpah Pemuda diharapkan para siswa juga semakin bersemangat menggali ilmu dengan gemar membaca.
“Kita awali dengan peringatan Sumpah Pemuda ini, semoga program literasi yang kita inginkan dapat terealisasi,” ucapnya. 
Muksinin mengatakan rencannya kegiatan literasi ini akan dilaksanakan  pada minggu ketiga dan keempat setiap bulannya. Media yang digunakan dibawa oleh siswa sendiri untuk dibaca dan dideskripsikan. Hasil deskripsi dituangkan dalam bentuk tulisan kemudian dievaluasi oleh guru.
“Kami harus melangkah meskipun diawali dengan konsep yang sederhana,” kata dia. 
Melalui program literasi ini pihaknya berharap terbentuknya karakter siswa. Terbentuknya budaya membaca yang dikuatkan dengan kebiasaan menulis akan membentuk karakter siswa yang tekun.
“Entah apa yang siswa baca kita bebaskan. Asalkan menambah pengetahuan dan membentuk karakter yang bagus, itu yang paling penting,” terangnya.
“Yang jelas dengan gemar membaca kemampuan siswa dalam memahami mata pelajaran akan semakin meningkat,” sambung Muksinin. 
Sebenarnya, literasi di SMPN 3 Singosari sudah berjalan sejak lama. Namun selama ini, yang masih tertata rapi di Bidang Keagamaan. Setiap pagi menjelang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM),  seluruh siswa membaca Alquran.
Target yang dicapai, setiap hari bisa khatam 30 juz. “Doa khotmil quran kita baca usai salat dzuhur berjamaah,” ujar Drs. Nur Sya’roni, guru Agama Islam SMPN 3 Singosari. 
Literasi Quran ini dilaksanakan di setiap kelas. Masing-masing siswa mendapat kewajiban membaca satu halaman. Media yang digunakan  berupa lembaran Alquran yang dicetak khusus dengan rapi dan menarik. Sehingga membuat siswa tidak jenuh saat membaca. Pembagian juz di-rooling setiap minggunya.
“Jika setiap siswa bisa menyelesaikan minimal satu halaman yang kita tentukan, maka setiap hari kita bisa khotmil quran,” jelas Sya’roni. 
Namun ia mengakui, belum semua siswa bisa mengaji dengan lancar. Oleh karena itu, bagi mereka yang belum bisa membaca dengan baik, diberikan bimbingan khusus sehingga bisa belajar dan akhirnya bisa mengaji dengan lancar.
Termasuk halnya dengan siswa yang non muslim. Sekolah memberikan ruang khusus bagi mereka untuk mengikuti pembinaan dari guru agama masing-masing.
“Jadi semuanya kita fasilitasi. Tidak hanya yang muslim, karena di sini juga ada siswa yang non muslim,” katanya.
Sya’roni menjelaskan literasi Alquran memiliki beberapa tujuan. Antara lain sebagai upaya penanaman karakter dengan mengajarkan siswa agar terbiasa berwudu’. Menurutnya, jika seseorang dalam keadaan suci, maka pelajaran akan semakin mudah untuk dipahami. “Ilmu itu dari Allah, maka kalau dalam kondisi suci, ilmu akan mudah diserap,” terangnya.
Kemudian, lanjut dia, membaca Alquran merupakan ajaran dari Nabi Muhammad. Bahwa kelak Alquran akan memberikan syafaat kepada orang yang gemar membacanya. Dan ini merupakan sebuah amal ibadah yang patut dilakasnakan secara istiqomah.
“Dengan demikian maka anak-anak akan lebih termotivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan,” imbuhnya. 
Sya’roni menambahkan, seiring dengan proses berjalannya program literasi ini, maka pihaknya akan berupaya untuk memberikan pemahaman isi Alquran kepada siswa. Dengan demikian, pengetahuan siswa tentang Alquran semakin luas.
“Itu masih rencana kedepan, yang kita awali lebih dulu dengan belajar membaca, kita jalankan pelan-pelan,” tukasnya. (imm/sir/van) 

Berita Lainnya :