Tingkatkan Kompetensi, Guru PAUD Dikenalkan C2HL


 
MALANG – Mendidik anak usia dini agar tumbuh menjadi ceria, cerdas, cemerlang dan bermartabat, harus dimulai dari guru terlebih dahulu. Bila guru mengajar dengan cemberut, akan membuat anak tidak nyaman dan tidak betah berada di sekolah.
“Kalau sudah seperti itu, materi tidak akan bisa sampai kepada siswa karena mereka sudah merasa takut dengan gurunya,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Dra. Zubaidah, MM saat menyampaikan materi dalam Workshop Peningkatan Kompetensi Guru PAUD bertema Creating, Creative and Happy Learning (C2HL), Sabtu (28/10/17). 
Workshop ini ditujukan untuk peningkatan kompetensi pendagogik, profesional, kepribadian dan sosial guru PAUD Kota Malang, sehingga dapat meningkatkan dan mewujudkan pembelajaran berbasis Creating, Creative and Happy Learning (C2HL).
Kegiatan berlangsung pada tanggal 28 dan 29 Oktober 2017. Acara akan berlanjut di tanggal 4 – 5 November mendatang mengundang guru PAUD se-kecamatan Kedungkandang.
Melalui workshop ini, diharapkan ada peningkatan kompetensi pedagogic, professional, kepribadian dan sosial guru PAUD kota Malang dalam mewujudkan pembelajaran berbasis C2HL, mengingat saat ini masih banyak guru PAUD yang belum sesuai dengan UU Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005.
Acara tersebut juga dihadiri oleh Bunda PAUD Kota Malang, Hj. Dewi Farida Suryani.  Dalam kegiatan ini, hadir 590 guru PAUD dari kecamatan Lowokwaru yang tergabung dalam 17 Gugus PAUD. 
Zubaidah juga menyampaikan bahwa kurikulum wajib ada di PAUD sebagai pegangan utama, pertama, dan seterusnya. Kompetensi guru pengajar PAUD harus sesuai dengan Permendikbud, bahwa guru harus lulusan S1.
“Kalau belum S1 maka tidak bisa dipanggil bila ada kegiatan, serta tidak bisa sertifikasi,” ujarnya. 
Peraturan tersebut sudah ada sejak 2005. Namun kenyataannya menurutnya, di lapangan, masih banyak guru yang hanya lulusun SMA/SMK, padahal telah diberi waktu hingga tahun 2015.
Peraturan tersebut telah diinformasikan secara menyeluruh, sehingga bagi guru yang masih ingin bergabung, disarankan untuk melanjutkan pendidikan hingga tingkat yang dipersyaratkan.
Sarana prasarana dalam PAUD tidak boleh hanya sekadar penggugur kewajiban. PAUD harus memiliki lingkungan yang menyenangkan dan alat bermain yang memadai agar siswa tidak merasa bosan.
“Jangan sampai lingkungan yang seharusnya menyenangkan, malah kotor dan tidak rapi. Anak tidak perlu ruangan yang bagus. Setelah ini kami akan mengecek apakah ada perubahan dari segi lingkungan, setelah mengikuti kegiatan in,” tandasnya.
Ketika menyampaikan materi, Zubaidah berpesan kepada guru untuk tidak melulu menggunakan hafalan, tapi juga tertulis. Prestasi boleh banyak, namun didukung dengan adminitrasi dan pencatatan. Selain iu, guru harus terus update dengan berbagai perkembangan pendidikan.
“Jangan asal membuka PAUD dan menerima murid. Kalau belum ada izinnya, tidak boleh menerima murid,” ujar wanita  berjilbab itu.
Terkait dengan insentif yang diterima GTT PAUD, Zubaidah mengatakan pihaknya sudah berusaha bijak dengan menggunakan aturan daya tampung, yakni 20 siswa untuk satu guru. Bagi guru yang telah memenuhi persyarakat yang ditentukan, dipersilakan untuk mengajukan tunjangan.
“Yang harus selalu ditancapkan adalah, bahwa setiap kali guru mengajarkan suatu kebaikan bagi muridnya, maka setiap kali kebaikan itu dilakukan, maka pahalanya terus saja mengalir bagi guru,” imbuhnya.
Hj. Dewi Farida Suryani selaku Bunda PAUD Kota Malang mengatakan, guru PAUD punya peran penting dalam membentuk generasi emas.
“Sekarang nutrisi ibu hamil telah sangat memenuhi dan program pendampingan dari pemerintah sudah banyak. Jadi ketika lahir, bayi sudah sehat. Pendidikan PAUD adalah akar generasi. Bila PAUD nya bagus, maka hasilnya baik karena akan terus terbawa hingga dewasa dan tua,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dia juga menyampaikan apresiasinya kepada seluruh guru PAUD atas sumbangan dedikasi yang luar biasa dalam mempersiapkan generasi peneus.
“Saya sampaikan ucapan terimakasih dari wali Kota Malang karena telah melaksanakan program-program pemerintah dalam memajukan pendidikan di Kota Malang. Hati-hati dengan kejahatan pada anak-anak, karena biasanya dilakukan oleh orang terdekat. Dan ketika telah dewasa, mereka akan memiliki kecenderungan melakukan apa yang dialaminya ketika masih kecil,” imbuhnya. 
Sementara pada Minggu 29 Oktober, sebanyak 500 Guru PAUD di aula Baiduri Sepah unjuk gigi menampilkan kreatifitasnya membuat cerita dan nyanyian dari cerita. Mereka membuat sesuai instruksi dari instruktur.
Sebelum peserta berdiskusi, Instruktur mengharapkan dari hasil ini, mereka bisa mempraktikkannya untuk anak didik mereka. Kegiatan ini diharapkan bisa memberikan rangsangan kepada guru untuk selalu membuat hal yang kreatif.
“Anda sekalian harus berdiskusi menampilkan yang terbaik. lagu anak-anak itu buat semenarik mungkin. Lalu berikan juga bumbu-bumbu keratifitas menarik. Memang ini tidak dinilai, tapi ini untuk merangsang anda sekalian membuat hal kreatif di dalam kelas nantinya. Sesuai tema kita membentuk kreatifitas,” kata instruktur. (sin/ras/adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :