Bung Tomo Berpidato, Semangat Siswa Membara


 
MALANG - Suasana penuh ketegangan terlihat di Halaman depan Sekolah Menengah Atas Islam Sabilillah Malang (SMAIS), Jumat (10/11). Beberapa siswa nampak membawa senjata berupa bambu runcing. Peperangan tak terelakkan dan membuat pagi yang sejuk menjadi sedikit memanas. 
Setidaknya gambaran itulah yang terlihat saat para siswa SMAIS memainkan teatrikal hari Pahlawan, kemarin. Tema yang diusung adalah the colourfull of heroic movement. 
Salah satu siswa yang berperan sebagai Bung Tomo, Muhammad Fikrar Clevario dari X Mipa 1 melakukan perannya dengan baik. Suaranya yang lantang dan tegas, dan logat yang menyerupai Bung Tomo pun membuat suasana seketika hening.
Badannya yang gagah dan tegap, serta suaranya yang lantang dan tegas mampu mengundang tepuk tangan para penonton. Tak sedikit yang merasakan gejolak dan semangat membara yang pernah dirasakan pemuda pada zamannya.
“Saudara-saudara, kita harus menyelamatken tanah air kita tercinta ini. Walaupun hanya dengan bambu runcing saja, tapi kita harus tetap berjuang dengan semangat pantang menyerah. Maju untuk menang. Selamatken tanah air Indonesia. Merdeka atau mati. Kita harus tetap merdeka walau kita semua mati terbunuh. Yang pasti merdeka harus tetap ada,” kata dia dengan aksen khas tempo dulu. 
Latihan logat selama seminggu membuatnya sangat menghayati peran Bung Tomo. Fikrar mendapatkan tepuk tangan dari penonton karena penampilannya itu. Ia berjalan dengan gagah, pakaian khas pahlawan membuatnya semakin mirip dengan pahlawan nasional penggerak pemuda itu.
Cerita lain yang disuguhkan adalah tentang perjuangan melawan sekutu di Bali, yang mengisahkan tentang pahlawan Bali, yaitu I Gusti Ngurah Rai. 
Salah satu siswa, Mochammd Arsyi dari kelas XI MIPA 1, berperan sebagai prajurit pembawa bambu runcing mengaku pengetahuan dan wawasannya bertambah dengan penampilan ini. 
“Saya senang sekali ketika harus memerankan ini. Sebab saya bisa belajar bagaimana susahnya mereka dulu ketika melawan penjajah. Walau peran saya berakhir dengan kematian, saya jadi tahu, lebih baik mati mempertahankan kemerdekaan daripada hidup dengan bayang-bayang penjajahan,” tegasnya.
Cerita berikutnya adalah tentang perjuangan pejuang melawan sekutu di Sumatera Barat. Cerita ini hanya berdurasi beberapa menit saja. Hampir sama dengan cerita sebelumnya, namun durasinya lebih pendek.
Waka Humas, Agus Busiono berharap, dari teatrikal drama ini, bisa memberikan semangat pada siswa untuk terus berjuang. 
“Kalau dahulu mereka berjuang menggunakan bambu runcing, sekarang sebagai pelajar mereka menggunakan pensil/bolpoin yang runcing untuk mengisi kemerdekaan dengan torehan prestasi,” kata dia.
Serangkaian kegiatan hari pahlawan ini juga dirangkai dengan unjuk gigi yel-yel yang dilkaukan siswa setiap kelas. Mereka menampilkan yel-yel yang menarik, kemudian dinilai dewan juri. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...